Benang Kusut Dalam Otakku

"Kamu selalu sms aku. Aku selalu bales sms kamu. tapi, kenapa kamu gak pernah bales smsku lagi?"

Lama aku berpikir harus membalas smsmu dengan kata-kata macam apa. Akhirnya aku hanya membalas, "Soalnya aku gak tau harus bales apa".

Sebenarnya aku punya banyak pertanyaan untuk kamu. Pertanyaan tentang kamu dan masalah yang entah sudah berlalu atau masih harus berlanjut. Saking banyaknya pertanyaan itu sampai-sampai aku bingung harus memulainya dari mana.

Kamu bilang, "aku males kalo udah ketemu tapi kamu gak mau ngomong. Wetmeruwet."

Aku sudah siapkan daftar panjang pertanyaan sebelum menemuimu, tapi lagi-lagi tatapan matamu selalu mengoyak hati dan membuat susunan kataku menjadi benang kusut. Aku tak tau harus memintalnya dengan cara apa jika benangnya saja sudah kusut.

Kamu bilang, "aku kan sudah bilang waktu itu, kamu ngomong aja. Aku denger, aku juga tanya-tanya sama kamu. Tapi kamu malah balik tanya"

Hei, aku tau betul, waktu itu kamu masih setengah sadar. Baru tidur magrib dan harus buru-buru bangun sekitar jam 8 karena ada aku yang hampir setengah jam berdiri di depan pintu kamarmu. Kamu suruh aku masuk kamarmu yang gelap, menghidupkan lampu, lalu aku hanya bisa duduk sambil melihatmu bergulung-gulung malas di atas kasur. Jadi, bagaimana bisa aku memulai obrolan serius dengan orang setengah sadar seperti kamu waktu itu?

Aku juga masih sangat ingat, waktu itu kamu memaksa aku untuk jelaskan isi pesan singkat yang aku kirim di malam sebelum.  Belum sempat aku jelaskan apapun ketika perbincangan kita mendadak panas dan aku geram dengan percakapan kita yang masih aku ingat sampai sekarang.

Kamu : percuma kamu kesini kalo gak mau ngomong. Kamu pulang gak dapet apa-apa.

Aku : percuma juga aku ngomong panjang lebar. Toh akhirnya aku juga gak bisa dapetin kamu kan?

Kamu : ya gak bisalah!

Percakapan itu membuat hatiku dongkol. Aku beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan kamu yang masih saja gulung-gulung diatas kasur. Mau tidak mau aku alihkan kekesalanku dengan cara ngobrol di ruang tamu sambil menonton tv  bersama salah seorang teman kosmu. Beberapa saat kemudian kamu melintasi ruang tamu, melewati aku begitu saja, dan berlalu meninggalkan tempat kos. Entah kamu pergi kemana, mungkin membeli makan. Tapi caramu melewatiku membuat aku semakin geram, seolah kamu lupa dengan nada tinggi yang sempat keluar 5 menit lalu.

Kali ini aku ingin jelaskan maksud smsku malam itu. Aku bilang, "aku benar-benar kehilangan kamu". Dulunya aku kira melepaskanmu pergi, membiarkanmu menatap sinis ketika bertemu, dan menjaga jarak denganmu akan sama mudahnya dengan yang aku lakukan pada "mantan calon pacar"ku. Tapi aku salah. Membiarkan kamu larut dalam kebencian atas kesalahanku yang perlahan masuk dalam hubunganmu karena merasa dibukakan pintu oleh sang tuan rumah ternyata malah membuatku semakin tersiksa.

Terlebih ketika kamu bilang, "kamu sudah tidak spesial lagi". Seolah ada belati yang tiba-tiba menusuk tepat di jantungku. Sesak. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa cerita ini sudah hampir mendekati ending? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku saat itu.

Aku benar-benar kehilangan kamu yang ternyata sudah aku anggap sebagai hujannya kemarau. Aku menganggapku lebih dari sekedar orang "spesial". Tenyata rasa sayangku sama besarnya seperti rasa sayangku kepada kakak laki-lakiku dan sahabatmu. Aku sudah menanggap kamu dan sahabatmu seperti kakakku. Ketika kamu putuskan untuk menjauh, aku benar-benar merasa sendiri. Aku kehilangan penunjuk arah sekaligus pohon rindang untuk berteduh dari teriknya matahari.

Kamu bilang, "males sama kamu". Aku memang orang yang "malesi". Aku bukan tipe orang asik, mudah berjabat tangan dengan orang, bertukar nomor handphone lalu berteman akrab seperti wanitalain di luar sana. Aku sang wanita tak tau malu ini selalu penasaran dengan akhir ceritanya, kapan kamu ada waktu? Aku ingin mendengarkan ceritanya dengan seksama. Kemudian membuat kesimpulanku sendiri.

Aku rindu..

Pagi tadi aku sampai di Jogja Istimewa..
Dengan malasnya aku membuka pintu kamar kos, menyingkirkan barang-barang yang berserakan diatas kasur dan merebahkan diri. Ah, rasanya baru kemarin aku sampai di rumah tapi hari ini aku harus kembali ke dunia nyata. Tak terasa sudah dua semester aku hidup di Sleman. Tak banyak yang berubah, aku masih bebal seperti dulu..

Tahun lalu usiaku masih belasan. Terlalu kekanak-kanakan untuk memahami niat baik ibu. Terlalu angkuh untuk menyerah dan kuliah di Jember. Alasan aku menolak untuk kuliah di Jember hanya satu; jadi anak dosen itu tidak enak dan serba salah. Iya, serba salah.. ketika anak dosen pintar, disayang banyak dosen, dan jadi salah satu mahasiswa yang di perhitungkan para haters pasti akan berpendapat "iyalah pinter, kan anak dosen". Tapi, ketika anak dosen bodho, jarang masuk kuliah, dan jadi mahasiswa kasta bawah para haters juga akan berpendapat "anak dosen kok bodho".

Selain itu aku juga sudah bosan hidup di Jember. Bukannya tidak cinta dengan Jember, tapi aku ingin merasa bebas. Waktu itu aku baru saja menanggalkan seragam putih abu-abu dan tak bisa dipungkiri, selalu ada fase dimana seorang remaja ingin hidup bebas, jauh dari orang tua, dan tidak ingin dikekang dengan nasihat berisi perintah ini itu. Walau ibu bukan tipe seorang ditaktor tapi ingin hidup bebas dan bisa pulang larut sempat jadi salah satu alasan aku kukuh ingin kuliah di Jogja.

Aku bukan seorang anak pintar. Hanya seorang anak pemalas yang alergi dengan buku-buku pelajaran. Masih seperti anak-anak pada umumnya, aku selalu remidi dibeberapa mata pelajaran. Sampai suatu hari aku bilang, "ibu.. tolong carikan tempat kuliah yang gak usah mikir". Akhirnya ibu dapatkan info tentang sebuah Sekolah Tinggi yang baru saja berstatus negeri. Iya, sekolah tinggi itu letaknya di Jalan Magelang Km 6,5 Sleman.

Di sini aku bukan lagi anak dosen. Aku hanya mahasiswa biasa yang berusaha pertahankan IP diatas 3,5. Memang bukan hal mudah tapi aku sadar bahwa ada wanita berusia 49 tahun yang menungguku pulang dengan gelar. Dulu, ketika ada tugas yang susah untuk di kerjakan aku selalu bertanya pada ibu. Namun sekarang berbeda, ibu dosen pertanian dan aku berkuliah di teknik broadcasting. Habislah! Aku harus kerjakan semuanya sendiri.

Bicara tentang Jember dan kebebasan.. aku selalu rindu dengan alun-alun Jember, beberapa cafe tempat biasa aku habiskan malam, dan aku selalu rindu dengan rumah. Ketika jauh dari ibu, aku bisa pulang semalam apa pun yang aku mau. Namun disisi lain aku ingin tetap di rumah. Aku ingin ibu menelfonku setiap kali pulang larut. Aku juga rindu dengan marahnya ibu ketika aku telat makan. Disini anakmu jarang sarapan dan jarang makan malam karena malas keluar untuk beli makan.


Aku Menyerah!

Lagi-lagi aku mengakhiri sebuah hubungan yang baru aku mulai awal semester kemarin. Dalam hati aku menghitung jumlah hubungan yang berakhir hanya karena kerasnya sikapku. Aku mengenalnya dengan tidak sengaja. Bertabrakan lalu saling tukar nomor handphone? Tidak, ceritanya tidak sedramatis itu, tapi dalam gelap malam aku selalu berhayal bisa memulai hubungan bahagia bersama dia yang tak sempurna.

Pesan singkat dengan bumbu perhatian sering dia kirim hingga membuat hatiku luluh. Wanita mana yang tidak kesengsem dengan sejuta kata-kata manis yang selalu dia umbar tiap malam. Demi dia yang masih aku agungkan sampai di akhir cerita ini, aku rela tidur larut malam untuk berbalas pesan singkat dengannya. Pesan singkatnya aku balas dengan penuh antusisas, setiap kali handphoneku bergetar aku berharap itu balasan pesan singkatnya.

Dari awal berkenalan hingga hari ini namanya masih menempati tab paling atas dalam daftar chat. Sikap dinginku pun akhirnya leleh bersama perhatiannya. Aku mulai tertarik dengan dia yang aku kira punya pemikiran dewasa. Harapan demi harapan mulai bermunculan. Setiap malam aku merangkai mimpi indah bersama dia. Aku tak mau mimpiku dijamah oleh laki-laki lain selain dia. Namun semua mimpi yang aku rangkai itu tak lekas menjadi nyata.


Hingga suatu malam dia membuka pembicaraan serius, bicara tentang perasaan dan arah hubungan kami selama ini. Dia mengungkapkan semua rasanya. Aku pun juga. Dia berharap aku menerima tawaran sebagai wanita nomor satu di hatinya. Sayang pengakuan yang dia buat malam itu hanya lewat pesan singkat. Walau pun memiliki definisi setia yang sama tapi aku tetap tak mau menerima tawarannya jika dia tak katakan langsung di depan mataku.

Aku hanya ingin melihat matanya, melihat betapa besar keseriusannya dan seberapa keberaniannya dalam mengungkapkan perasaan di depan wanita. Namun di luar dugaan, dia hanya menjawab "aku butuh waktu yang pas". Spontan hati kecilku mengumpat. Apa waktu yang selama ini aku berikan tak cukup untuk merangkai kata cinta?

Sejak saat itu aku terus berjuang, berharap waktu yang dia maksud segera tiba. Nyatanya, setelah tiga bulan kami bersama, waktu yang dia maksud belum juga datang. Aku yang telah mati-matian bertahan, berusaha mengubah tabiatku, dan jadi yang dia mau pun mendadak lelah. Semua terasa tidak imbang. Dia acuhkan aku dengan segala kesibukannya dan dia tetap memaksa aku untuk pahami maunya. Dia tak pernah mengerti aku dan suka menuntut ini itu. Menyakitkan!

Aku juga wanita. Aku ingin diperjuangkan seperti wanita-wanitanya yang dulu. Aku juga ingin di rayu saat merajuk, tapi nada tinggiku selalu dibalas dengan nada yang lebih tinggi lagi. Dalam keadaan sekacau itu dia masih sempat memojokkan aku dengan rangkaian kalimat panjang lebar yang sejujurnya tak pernah aku tau arahnya . Dia selalu memposisikan aku sebagai dukun yang bisa menerka-nerka maunya tanpa dia harus bicara. Dia selalu memberiku sandi-sandi morse yang harus segera aku terjemahkan. Dia selalu memberi kode-kode aneh dan berharap aku peka. Jadi, dalam cerita ini siapa yang berperan jadi wanita?

Ayolah aku ini wanita, apa aku salah jika menunggu dia menyapaku terlebih dahulu ketika berpapasan dengan dia di kampus? Karena selama ini dia selalu melewatiku, perlakukan aku seperti orang yang baru dia kenal kemarin sore. Seolah kami tak ada rasa sedikitpun. Bahkan terkadang aku merasa bahwa dia tak menganggapku ada.

Pujian-pujian yang sering dia sematkan kini berubah jadi cemoohan. Kata sayang yang sering dia ucap pun berubah jadi hinaan. Kami bertengkar hebat kemarin malam. Mengosongkan emosi yang selama ini terpendam..

Dia bilang otakku telah di racuni kata-kata busuk dari para sahabatku. Dia bilang telingaku terlalu lebar sehingga banyak mendengar kata orang. Aku sudah jelaskan berkali-kali bahwa aku tak pernah dengar kata orang, tapi lagi-lagi dia memojokkan aku dan bersembunyi dibalik kata "konsekuensi". Konsekuensi apa lagi yang dia maksud? Sudah terlalu banyak konsekuensi yang aku pikul demi bersama dia. Mungkin dia tidak sadar bahwa  aku selalu tutup mata dengan semua kekurangannya. Rela korbankan yang aku punya demi lengkapi ketidaksempurnaannya. Namun semua pengorbananku sia-sia. Otak dungunya selalu menganggap aku lebih memihak pada mereka yang tidak suka melihat kami bersama.

Iya, aku wanita keras kepala. Aku tak bisa pasrah dengan cara dia menindasku. Hanya karena aku menyayanginya bukan berarti dia bisa menganggap aku sapi dengan hidung tercocok. Aku tak bisa diperlakukan seperti boneka! Aku lelah. Aku ingin menjalani hubungan normal seperti yang lainnya. Aku jadi wanita dan dia jadi pria. Aku ingin dia yang mengantar aku kampus, membelikan aku makan saat sakit, rela berhujan-hujan hanya untuk bertemu aku, dan mau luangkan waktunya untuk membantuku kerjakan tugas kuliah. Sayangnya peran kita terbalik.. aku yang lakukan semua kebodohan itu demi dia!

Aku memang tak bisa jadi yang dia mau..
Aku ingin sampaikan banyak terimakasih untuk dia, karena aku cukup bahagia telah mengenal dia yang rajin sholat, tak lupa dengan sholat jum'at, dan rajin puasa sunah. Tak banyak yang bisa aku lakukan untuk pertahankan dia. Aku sudah lelah berjuang sendiri. Aku menyerah.


Spesial Pake Telor Karet Dua Bungkusnya Disobek

Sekarang pukul 11 malam, aku baru saja memasuk kamar kos dengan sambutan dari setumpuk boneka yang memaksaku untuk menjamahnya. Sayangnya aku masih enggan untuk menghampirinya. Banyak tugas yang menunggu, batinku. Aku berganti pakaian dan ke kamar mandin untuk gosok gigi, cuci muka, dan berwudhu. Setelah menyelesaikan empat rakaatku, tenaga yang sedari pagi terus menggebu akhirnya tumbang ditebas rasa kantuk. Aku menyerah, aku merebahkan diri di atas ranjang. Berusaha tutup mata.. tapi tiba-tiba kenangan bersamamu berlalu lalang dalam pikiranku.

Apa aku benar-benar merindukan kamu?

Dua jam lalu aku mendatangi tempat kosmu, bukan untuk bertemu kamu lagi, tapi untuk bertemu orang lain. Dengan penuh rasa canggung aku menyusuri lorong dan melewati beberapa kamar kos. Kamar di ujung lorong ini adalah kamarmu, kamar yang biasa aku masuki dan berbagi banyak hal dengan kamu. Segerombolan lelaki tampan sedang asik berbincang didepan sebuah kamar dengan pintu tertutup dengan lampu padam. Aku tau kamu ada di dalam kamar berukuran 3x3 itu. Kamu suka mematikan lampu saat tidur. Aku tau.. kamu suka tidur pagi, bangun pagi, dan tidur dari siang hingga malam hari. Jam tidurmu terbalik. Aku tau!

Aku habiskan banyak waktu untuk berbincang dengan sesorang yang namanya pernah kamu pinjam. Diam-diam aku mencuri pandang ke arah pintu kamarmu. Berharap kamu keluar kamar dalam keadaan acak-acakan dan melihat aku duduk manis di depan kamarmu. Dalam setiap kedatangnku ke tempat kosmu, aku selalu berharap bisa bertemu dengan kamu walau sebenernya tujuanku kesana bukanlah bertemu kamu. Aku rasa caci maki wanitamu tak bisa habiskan nyaliku untuk terus memburumu. Aku kira aku masih cukup berani untuk merangsek masuk dalam hidupmu lagi. Bukan sebagai pengacau, tapi sebagai penyejukmu. Ingatkah kamu.. beberapa bulan terakhir aku adalah wanita yang menjadi nyala dalam baramu. Namun seiring padamnya baramu, aku tak lagi kamu anggap ada.

Sampai pukul 9 malam pun kamu tak kunjung terjaga dari mimpi indah. Mau tak mau aku bangkit dari tempat duduk, bergegas menuju IDM bersama salah seorang teman kosmu. Aku tidak sedang berkencan atau berusaha gantikan posisimu dengan orang lain. Walau kamu sudah tak menganggapku seseorang yang spesial pakai telor karet dua dan bungkusnya disobek, tapi kamu masih menyandang gelar yang sama seperti dulu. Ah.. aku masih kerap membaca sms terakhir dari kamu Berharap kalimat terakhir itu tak ada. Berharap semua sama dan baik-baik saja. tapi harapan tak selamanya bisa jadi nyata.. semua berubah. Kamu bilang aku tak spesial lagi, sementara dalam diam aku masih menganggap kamu sebagai orang spesial. Apa harus semenyakitkan ini? Entah bodoh atau dungu.. setelah melewati hari yang cukup menyakitkan dan sempat tersentak akibat kabar putusnya kamu dan wanitamu dengan tololnya aku berharap bisa bertemu dengan kamu lagi walau kamu sudah memaksa aku untuk menjauhimu. Dengan polosnya pula aku tetap mengagungkan kamu, memberimu posisi sebagai satu-satunya orang spesial.

Lama aku menunggu temanmu menginstall software yang akan digunakan untuk mengerjakan tugasku. Dalam diam aku berharap semoga kamu terjaga dan buru-buru datangi kami. Aku tau ini tempat favoritmu untuk habiskan malam. Temanmu bilang, kemarin malam kamu habiskan malam bersamanya di sini. Bukan sebuah kesengajaan, aku butuh earphone untuk menyelesaikan editing audio dan temanmu bilang kalau kamu sudah bangun tidur dengan suka hati kamu akan antarkan earphone itu untuk kami. Buru-buru dia mengetik pesan singkat untuk kamu, berharap kamu bangun, membalas pesan itu, datang kemari, dan bertemu aku. Ah, skenario yang muluk-muluk karena nyatanya pesan singkat yang dia kirim pun tak terkirim. Sungguh.. aku sudah benar-benar kehilangan kamu.


Apa kamu sempat menjadi milikku? Jika tidak, kenapa aku merasa kehilangan kamu ketika kamu putuskan untuk menyenangkan hati wanitamu dan tinggalkan aku? Apa semuanya telah berakhir? Aku ingin melihatmu lagi, tapi aku takut hal itu mengingatkan kamu pada kekhilafan kita waktu itu. Kamu bilang aku harus jauhi kamu tapi aku tak boleh jauhi teman-temanmu, lalu apa yang harus aku lakukan ketika aku bertandang ke kosmu, bertemu kamu, dan mata kita saling bertemu? Apa aku harus bertindak acuh atau aku harus menyapamu dengan sebutan giant seperti dulu? Ah, aku takut.. aku takut kehilangan akal ketika bertemu dengamu lagi. Aku takut.

Jika Aku Jatuh Cinta Lagi

Jika aku jatuh cinta lagi, aku mau orang itu dia. Seorang remaja asal Magelang yang sering aku temui di mushola kampus selepas sholat duhur. Seorang yang aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa. Seorang yang mendampingi mentri komunikasi saat sang mentri bertandang ke kampus beberapa minggu lalu. Waktu itu aku duduk diantara sekian banyak mahasiswa lain, tapi enatah kenapa mata kami masih bisa  bertemu. Cukup lama kami bertatap mata,  tapi masih seperti biasa, tatap mata itu seolah memberi sebuah isyarat yang belum bisa aku tebak maknanya.
Aku ingin orang itu dia.. dia yang duduk disampingku saat sakit asma kambuh disela-sela aktifitas Ospek. Sudah hampir setahun lamanya, tapi aku selalu ingin mendapat moment yang pas untuk memulai percakapan dengan dia. Ingin aku menyapanya, bertukar pin bbm, dan mulai membangun komunikasi yang intensif dengan dia. Sayangnya aku seorang wanita yang mementingkan gengsi ketimbang rasa kagumku padanya.

Dari Dunia Untuk Yang Di Surga

Kalau kamu izinkan aku untuk tetep disini, aku tak akan pergi.
Percuma aku pergi. Aku sudah lama kehilangan arah dan tujuan. Hingga bayangmu memudar pun aku masih belum bisa temukan arah dan tujuan yang baru. Sejak awal perkenalan, aku sudah begitu mantap untuk memusatkan hati dan pikiran hanya pada kamu. Tak akan pernah berpaling dari wajah tampanmu yang selalu mengkilat akibat lama tersengat cahaya matahari. Sejak bertemu denganmu, aku bisa tutup mata dengan semua kekuranganmu. Kamu yang mengobati lukaku, merubah tabiatku, dan izinkan aku melepas lelah di bahumu. Bukan, kamu memang bukan seorang malaikat tapi caramu memperlakukan aku yang hina ini membuatku begitu mengagungkanmu.
“Siapa yang sedang kamu tunggu?”
Apa aku harus menyebut namamu di depan mereka? Orang nomor satu yang pantas tau akan segala hal yang terjadi di hidupku. Sementara aku adalah orang yang tak boleh banyak tau tentang kehidupanmu. Memang tak adil tapi aku menyukai caramu menanggapi semua ceritaku. Entah mengapa aku tak banyak protes jika pertanyaan seputar kehidupanmu tak berbuah jawaban. Lambat laun kita mengerti kelemahan satu sama lain dan akhir-akhir ini kamu mulai jatuh cinta pada sisi gelapku. Seolah mengampuni semua dosaku dimasa lalu, kamu mengajakku membuka lembaran baru.
Kita sering bertengkar hebat, membuatku menangis sesenggukan sampai kamu mengutuk diri atas semua perbuatanmu. Kamu memilih untuk diam ketika emosi mulai meracuni akal sehatku. Sementara aku selalu balik memaki ketika sumpah serapah mulai keluar dari mulutmu. Sejujurnya banyak perbedaan dari diri kita. Aku hanya anak dari keluarga yang terbiasa makan sehari sekali dan kamu berasal dari keluarga terpandang dengan latar belakang pendidikan tinggi. Namun semua perbedaan itu membuat kita semakin utuh.
Diam-diam kita juga memiliki kesamaan. Kita sering bermain PS bersama hingga larut malam. Kamu bernyanyi dan aku memetik senar gitar. Aku gemar menulis dan kamu gemar membaca. Kesamaan yang terkesan dipaksakan itu membuat kita bertahan lama. Mungkin sudah dua belas bulan kita jalan bersama tanpa seorang pun yang tau bahwa kita saling mencinta. Banyak orang yang bilang, kalau cinta tak pernah diucapkan lama kelamaan akan hilang. Kita? Kita tak pernah terikat dalam suatu hubungan yang jelas namun keheningan malam selalu mengingatkan kita untuk saling mengucapkan “cinta kamu” sebelum terlelap dan itu semua membuat kita lebih dari bahagia.

Setelah banyak hal yang kita lewati, setelah banyak waktu yang kita habiskan bersama, dan setelah sekian banyak ujian yang kita taklukkan bersama.. bolehkah aku meminta pada Tuhan untuk mengakhiri drama dan kembalikan kamu kedunia lagi?

Dua Minggu Lalu

Dua minggu lalu aku bertemu dengan wanitamu. Dia menggunakan kerudung merah dengan jas almamaternya. Iya, waktu itu aku memang tak sengaja bertemu dengan dia di sebuah sekolah tempat sosialisasi. Pagi itu aku dan beberapa teman lain memang sengaja datang terlambat ke tempat sosialisasi karena tau kalau universitas wanitamu mendapat jam lebih awal untuk presentasi di hadapan puluhan murid SMK tersebut. Aku baru turun dari motor dan menunggu teman memarkir motor di dekat masjid sekolah. Entah sekenario macam apa yang Tuhan rancang untuk cerita ini, saat aku menoleh kearah pintu masuk aula, aku melihat seorang wanita berdiri tepat di depan pintu. Aku menyipitkan mata, dengan minus yang mengurangi jarak pandang aku berusaha meyakinkan diri bahwa wanita yang berdiri jauh disana bukanlah wanitamu, tapi ternyata..
Wanita yang selalu kamu puji itu tampak lebih cantik ketimbang di foto yang pernah kamu tunjukkan padaku. Dengan jarak sejauh ini aku berusaha mengamati gerak gerik wanitamu yang sedang sibuk mondar mandir di depan pintu aula dengan handphone di tangannya. Sesekali dia melihat kearahku dengan santai. Ah, seandainya dia tau apa yang pernah kita lakukan. Apa dia masih bisa memandangku dengan wajah santai seperti waktu itu? Aku masih larut dengan lamunanku saat dia melangkah masuk ke dalam aula. Kalau saja nyaliku sedang penuh, tentu aku sudah menghampiri wanitamu, menjabat tangannya sembari mengucapkan kata maaf.
Malam harinya aku coba mengirimkan pesan singkat untuk kamu dengan harapan mendapat respon yang menyenangkan seperti hari-hari kemarin. Namun tak selamanya harapan bisa menjadi kenyata karena pada malam itu kamu sendang bersama wanitamu.
aku sedang bersama wanitaku
 Aku kira kamu masih di study tour di Bali, tapi ternyata kamu sudah kembali untuk menemui wanitamu tanpa memberitahuku. Jelas aku merasa kaget saat membaca balasan pesan singkat darimu, mendadak hatiku berdenyut sakit. Aku hanya bisa tersenyum tipis sambil meletakkan handphone di sofa dan permisi untuk ke kamar mandi pada kakakku. Senyum tipis yang aku tampakkan hanya menjadi topeng karena beberapa saat sebelum rasa sakit menyerang aku sedang bercerita tentang kelucuan Dodit Mulyanto yang akhir-akhir ini wajahnya semakin sering muncul di layar kaca.
Di kamar mandi aku mengusap wajah dengan air agar semua kesakitan ini tak berubah menjadi tangis. Sejenak aku merenungi setiap kebodohan yang sudah aku perbuat dan entah kenapa denyutan menyakitkan ini tak segera hilang. Mungkin benar kata beberapa orang yang semberiku nasehat, dalam jangka pendek semuanya akan baik-baik saja tapi dalam jangka panjang akan ada kesakitan-kesakitan yang siap hinggap dan membunuh secara perlahan. Ketika nasehat itu berdatangan aku masih bisa mengelaknya dengan kalimat “aku kan baik-baik saja” sebab dari awal perkenalan kita, ini adalah kali pertama kamu bertemu dengan wanitamu. Ternyata kalimat yang aku anggap paling mujarap untuk mengelak semua perkiraan para temanku tak lagi berfungsi ketika situasi seperti ini benar-benar datang.
Dalam sebuah statusnya di salah satu jejaring sosial, wanitamu pernah menyebut pertenuan kalian hanyalah mimpi dan perpisahan akan jarak adalah kehidupan nyata. Dari situ aku mengerti bahwa posisiku sebenarnya ada di dunia nyata, saat jarak menjadi koma, saat kalian tak lagi bersama. Namun ketika kamu dan wanitamu bersama aku mah da apa atuh? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya akan menjadi butiran debu di kaca matamu yang akan segera kamu usap dengan selembar kain lembut ketika kamu berasa terganggu. Benar saja.. kamu sedang mengusirku dengan lembut. Berusaha menyingkirkan setelah kamu dapatkan semua hal yang kamu mau dari aku. Apa kamu tak punya cara yang lebih menyakitkan daripada ini?


Akan Lenyap Dimakan Waktu

Aku kecewa!
Kemarin malam kamu sudah berhasil membuatku kecewa. Bukannya kita sudah rencanakan ini sejak jauh-jauh hari? Lalu kamu batalkan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ah, ayolah.. kamu kira hanya kamu yang punya segudang aktivitas penting? Aku juga. Aku sudah kosongkan agenda, batalkan beberapa janji dengan teman, dan aku sudah dengan bodohnya melakukan itu semua demi kamu. Lantas apa balasanmu? Kamu bilang kita tak bisa bertemu hari Jumat dan kita tak bisa membuat makanan kesukaanku pada hari Sabtu. Sungguh aku tak bisa terima dengan caramu memperlakukan janji yang sudah kamu keluarkan sendiri dari mulutmu. Cukup! Berhenti disini.. aku tak akan menghubungimu lagi.
Beberapa saat kemudian handphone-ku bergetar hebat. Melihat namamu muncul di layar membuat aku lupa dengan janji untuk tidak menghubungimu lagi. Awalnya aku ingin menyapamu dengan lembut seperti biasa. Namun ketika kamu langsung mengucapkan “Kamu marah?” aku langsung kehilangan selera. Aku hanya diam, aku juga tak lantas menjawab pertanyaanmu sebab aku mau kamu sadar akan sebuah tata krama yang kamu lewatkan ketika menelfon seseorang. “Baiklah.. Assalamualaikum. Aku minta maaf karena sudah batalkan janji dengan kamu”.
“Walaikumsalam..” beberapa lama percakapan terhenti. Aku hanya menjawab salam tanpa merespon permintaan maaf mu. Hening. Sudah bisa dipastikan kamu sedang berfikir ekstra keras untuk memulai percakapan tanpa membuatku marah. Bagaimana? Apa perlakuanku ini sudah cukup menyesakkanmu? Aku tau itu karena kamu sudah berkali-kali menghela nafas dalam jeda waktu yang sangat rapat.
“Aku minta maaf, aku tau aku salah dan kamu pantas untuk mengacuhkan aku”, nada bicaranya semakin pelan. “Apa kamu sedang tidak ingin bicara denganku? Maaf”
Aku tertawa cekikikan sebelum mulai buka mulut. “Aku nggak marah. Bukannya masih banyak hari lain untuk melakukan hal tak penting itu?”, sekali lagi kamu menghela nafas. “Sudahlah, kita bicarakan hal yang lain saja”.
Seperti acara eksklusif di televisi, kamu mengajakku bicara ngalor ngidul hingga dua jam tanpa jeda iklan. Teh hangat yang aku buat dengan penuh rasa kecewa pun sedikit demi sedikit habis, tapi kamu masih terus bicarakan hal-hal tak penting. Walau itu adalah percakapan tak penting, tapi aku tetap mendengarkannya karena aku tau suatu saat aku merindukan setiap hal tak penting dari kamu. Aku sadar betul bahwa kita tak akan lakukan hal yang salah secara terus menerus. Hanya tinggal menunggu waktu dimana kamu sadar bahwa yang kamu lakukan sekarang merupakan sebuah kesalahan lalu kita pun akan lenyap dimakan waktu. Diakhir pembicaraan kamu bilang besok kamu ingin bertemu denganku. Kebodohan yang sama pun terjadi, aku meng-iya-kannya.
Tadi siang kamu menyapaku dengan senyuman manis. Kita baru tak bertemu satu minggu, tapi seolah-olah rasa rindu yang kita bagi via telfon semalam benar-benar memenuhi kepalamu. Kamu tak pernah berubah, kamu datang menjemputku disaat matahari tepat diatas kepala tanpa menggunakan jaket untuk melindung lenganmu dari sengatan matahari. Sepanjang perjalanan menuju tempat tinggalmu aku terus mengeluh kepanasan sementara kamu hanya merespon dengan kata-kata, “dasar manusia kalau panas ngeluh kalau hujan juga ngeluh”. Ah, cara bicaramu yang ketus membuatku berhenti mengeluh sampai tempat tujuan.
Berbeda dengan agenda pertemuan rutin yang biasa aku lakukan dengan kamu, kali ini tujuan kita jelas.. ketempat tinggalmu karena cuaca yang bisa mendadak berubah, aku yang ringkih, dan kita sama-sama tak mau jatuh sakit disaat ujian. Terimakasih atas pengertianmu, aku sayang kamu *eh oke maaf* Setibanya di rumahmu aku segera menyibukkan diri dengan materi ujian yang sengaja aku bawa, sedangkan kamu mulai mengobrak-abrik kertas dari dalam map sampai kamu mulai larut dalam duniamu sendiri. Ah, dasar laki-laki tak tau diuntung.. kamu mengajakku keluar disaat matahari terik dan mengabaikan aku begitu saja. Luar biasa.
Handphone-mu berdering. Segera kamu menjawab telfon -dari seseorang yang sudah bisa aku tebak- sembari menjauh dariku. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Kenapa wanitamu harus menelfon disaat kamu sedang bersamaku? Tak bisakah kamu abaikan dia seperti cara kamu abaikan aku? Ayolah.. buat aku lupa bahwa aku bukan satu-satunya. “Siapa?” tanyaku basa-basi saat dia kembali duduk disampingku. Kamu hanya nyengir kuda  sebagai tanda bahwa dugaanku benar.
Tak lama setelah itu kamu merapikan lembaran kertas kedalam map kemudian memalingkan pandanganmu kepada aku  yang sudah manyun akibat pengacuhanmu. “Aku sudah temukan resepnya” katamu.


Buang Aku Dari Hidupmu

Jika kamu bertanya apa yang sedang aku inginkan sekarang, aku akan menjawabnya dengan satu kata; kamu. Selepas acara perayaan pergantian tahun semalam aku tak henti-hentinya memikirkan kamu. Memikirkan betapa acuhnya kamu akan kehadiranku karena kamu terlalu asik dengan duniamu. Semalam, aku berkali-kali mencuri pandang ke arahmu dan tak sekalipun pandangan kita bertemu. Aku kira kamu tak tau bahwa aku datang ke acara perayaan itu. Kamu juga tak berusaha mencariku ketika kamu tak melihatku diantara kerumunan banyak orang. Apa aku tak spesial lagi? Bukankah kamu yang bilang bahwa aku kan menjadi seorang yang spesial untukmu? Apa kamu sudah lupakan itu? Semua pertanyaan itu terus berkecamuk dalam benakku.
Hingga 16 jam lepas dari acara perayaan itu kamu belum mengirimkan pesan singkat padaku. Iya, selepas perayaan pergantian tahun kamu memutuskan untuk pulang kekampung halaman. Aku juga tau waktu tempuh untuk sampai ke kotamu lebih dari 12 jam. Lalu apa karena kamu terlalu lelah hingga kamu tak sempat memberiku kabar? Ketahuilah, aku sudah benar-benar lelah menunggu kabar dari kamu. Aku selalu menunggu dari pagi hari hingga larut malam dan tak jarang penantian itu sia-sia. Akhir-akhir ini kamu mulai tega membiarkan aku terlelap dalam penantian, dan ketika pagi membangunkanku pesan singkatmu juga tak ada. Apa aku sudah benar-benar tak berarti untukmu?
Padahal dua hari lalu kita sempat bertemu dan masih seperti biasa.. kita menyusuri jalan protokol tanpa memiliki tujuan yang jelas. Kamu juga masih berusaha menggenggam tanganku setiap kali berhenti di lampu merah. Kita bicarakan banyak hal saat itu. Kita bicara tentang masa depan kita masing-masing. Sesungguhnya aku paling benci membicarakan masa depan denganmu. Bukan karena kamu tak punya prinsip hidup yang jelas, tapi karena aku tau masa depan yang kamu bicarakan denganku tak akan pernah bisa kita jalani bersama. Aku tau benar jauh disana ada seorang wanita yang menunggumu untuk pulang, tapi dalam kehidupan nyata hanya aku wanita yang bisa membuatmu lebih kuat dari sebelumnya.
Kali ini aku mulai menanyakan hal yang pernah kamu tanyakan kepadaku diawal perkenalan kita. Kenapa bukan aku yang dapatkan kamu? Kenapa perkenalan ini datang terlambat? Dulu, ketika kamu yang menanyakan hal ini padaku aku menjawabnya dengan santai. Aku bilang perkenalan ini, hubunganmu dengan wanita itu, dan kedekatan kita bukan semata-mata kebetulan saja, suatu saat kita akan tau apa makna dari takdir ini. Namun sekarang ketika kamu sudah berhenti menanyakan hal itu, akulah orang yang berbalik menanyaimu. Lalu apa jawabmu? Jika kamu sempat membaca tulisan ini segeralah beri aku sebuah jawaban yang bisa membuat aku iklas melihatamu kembali pada wanita itu.
Kamu bilang aku acuh, tak peduli denganmu, dan tak pernah menganggapmu spesial. Dari caraku menyapa, caraku bicara, dan caraku memandangmu apa kamu tak rasakan bahwa aku menganggap kamu lebih dari orang spesial? Apa kamu terlalu bodoh untuk memahami situasi hatiku? Atau bahkan kamu tak pernah bedakan bahwa aku menurunkan nada bicaraku ketika aku bicara denganmu. Apa ketidakpekaanmu sudah separah itu? Ayolah, aku ingin kamu mengerti bahwa rasa ini benar-benar datang padaku diwaktu yang salah. Jangan buat aku terus larut dalam perasaan yang salah. Buang aku dari hidupmu dan kembalikan seluruh kepingan hatiku yang diam-diam kamu curi. 


Untuk kamu yang selalu ada dalam tulisanku

Dear Giant...
Mungkin kamu tak akan pernah membaca tulisan ini dengan alasan tak memiliki cukup kuota. Namun hanya dengan cara ini aku bisa memperlihatkan sisi lain dari aku yang tak pernah kamu ketahui. Kita sering berbicara via telfon hingga dini hari, tapi hitungan jam tak lantas membuatmu mengenaliku secara detail. Kamu belum tau betapa busuknya aku, betapa gilanya aku ketika menginginkan seseorang, betapa sadisnya aku ketika aku ingin mengeluarkan seseorang dari kehidupanku dan andai kamu tau sisi lain dari aku, kamu pasti mengurungkan niat baikmu untuk menyatukan aku dengan seseorang dari masa laluku.
Cukup kamu tau, aku sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan kamu. Selama berbulan-bulan hidup di kota orang, kamu adalah orang pertama yang menjabat tanganku dan menyebut dirimu sebagai “Adam”. Malam perkenalan kita memang tak sesempurna FTV, tapi entah kenapa perkenalan yang sudah berlalu beberapa bulan masih melekat dalam ingatan. Malam itu kita duduk di teras depan tempat kos-ku. Menikmati lalu lalang kendaraan sembari mendengarkan cerita singkatmu tentang Jogja, hanya seperti itu dan tak ada yang spesial.. setelah bicara panjang lebar layaknya sales alat dapur, kamu berpamitan untuk pulang.
Cerita berhenti disitu.
Aku hanya mengingat namamu tanpa tau dimana letak asrama yang pernah kamu ceritakan, dimana kamu kuliah, dan status hubunganmu sekarang. Dan beberapa hari kemudian kamu muncul dengan sapaan yang kaku. Dari sapaan kaku itu kita memulai babak baru, aku menyebutnya dengan perkenalan ke-dua. Hari itu juga untuk pertamakalinya kamu menelfonku, mengajakku bicara hingga lewat jam 1 malam. Awalnya kita hanya membahas project yang sedang aku kerjakan, namun lama kelamaan obrolan kaku itu berubah menjadi obrolan yang membuat waktu berlalu tanpa kendali. Obrolan yang membawamu dalam sebuah pengakuan.. pengakuan yang sama, yang sering aku dengar dari banyak laki-laki di luar sana; aku membuatmu nyaman. Tak berhenti sampai disitu, kamu mulai bicara ngelantur saat aku memberi tanggapan yang sama tentang kamu. Waktu itu aku bicara apa adanya karena aku adalah orang yang tak mudah akrab dan tak begitu suka bicara panjang lebar dengan orang yang baru aku kenal.
Satu.. Dua.. Tiga..
Tiga jam berlalu, obrolan hangat itu masih berlanjut. Hingga kamu mengajakku membicarakan perasaan. Dari situ kamu tau bahwa sampai hari ini aku masih sendiri, sedangkan kamu masih enggan mengakui status hubunganmu dengan alasan kamu takut aku menjauhimu ketika aku tau bahwa kamu sudah tak lagi sendiri. Iya, sampai hari ini pun kamu sedang menjalin hubungan jarak jauh dengan seorang wanita yang berasal dari kota yang sama dengan kamu. Sedangkan aku hanya tertawa nanar ketika kamu mengakui status hubunganmu itu. Aku menarik nafas.. kecewa. Untuk kesekian kalinya aku merasa sangat nyaman dengan seseorang yang telah menjadi milik orang lain. Apa di dunia ini tak ada seorang yang sendiri?
Hari berlalu..
Fastlane handphoneku penuh dengan pesan singkat dan beberapa panggilan masuk darimu. Setelah aku setuju untuk tidak tinggalkan kamu hanya karena kamu memiliki kekasih diluar sana membuat kamu semakin tak terkendali. Intensitas pangilan masuk semakin rapat.. hingga pertemuan kedua kita tiba. Kamu menjemput aku untuk pergi ke asrama yang pernah kamu ceritakan sebelumnya, ya masih dengan dalih mengerjakan project yang sempat aku konsep bersamamu beberapa malam sebelumnya. Sesampainya di asrama aku sempat ngobrol dengan beberapa penghuni asrama yang notabene sekota dengan aku dan kamu. Pertemuan kedua kita tak berjalan mulus karena kamu memilih diam. Sejak pertemuan kedua itu kita sudah jarang berkomunikasi dan aku sendiri juga mulai acuh dengan kamu.
Yang ada di dalam pikiranku waktu itu..
Sepulang dari asrama pikiranku kacau, semua hal yang membuatku menilai bahwa kamu adalah orang baik seketika hilang. Aku tak habis pikir dengan cara kamu yang memperlakukan aku begitu manis, sementara jauh di sana ada seorang wanita yang sedang berjuang mati-matian untuk pertahankan hubungan kalian. Dimana letak keagungan cinta yang selama ini kalian puja? Bahkan hanya karena ketidakmampuan kamu mengontrol emosi membuat kamu dengan mudahnya menggenggam tanganku. Sedangkan kamu tak pernah memikirkan betapa porak porandanya hati wanitamu ketika dia tahu laki-laki pujaannya sedang bergandengan tangan dengan seorang yang baru dikenal.
Untuk kedua kalinya kamu menelfonku..
Aku tau kamu baru saja sakit flu dan aku sangat merasa bersalah karena tak memiliki cukup waktu untuk datang menjengukmu. Malam itu aku tak mendengar suara merdumu, flu benar-benar mengoyak pita suaramu sampai-sampai hanya nada-nada sumbang yang bisa kamu keluarkan. Namun aku cukup menikmati percakapan malam itu. Percakapan yang dimulai dengan pertanyaan, “apa kamu suka denganku?” waktu itu aku tak bisa menjawabnya dengan jelas. Aku berkelit habis-habisan karena amarah yang sempat menguasaiku sepulang dari asrama waktu itu. Lancang!
Keesokan harinya kamu menjemputku di kampus, mengajakku menyusuri jalan protokol kota Yogyakarta untuk menuju wonosari. Mendung tebal mengantar perjalanan kita ke Gunung Kidul, dalam berberapa menit motor kesayanganmu melesat cepat ke tempat tujuan. Sebenarnya perjalanan yang kita lalui relatif lebih lama daripada waktu tempuh yang pernah aku lalui bersama beberapa teman asramamu saat survei lokasi untuk makrab. Disepanjang perjalanan pun kamu tak ada hentinya menggodaku. Entah kamu lupa dengan wanita itu atau kamu memang sengaja membuat seolah-olah tak ada seorangpun yang tersiksa dengan jarak. Lucu, laki-laki macam apa kamu ini? Mendung yang mengiringi perjalan kita mulai menepi, dari ketinggian "Bukit Bintang" aku bisa melihat kota Jogja yang disirami air hujan. Menikmati pemandangan seindah ini dengan seorang yang salah, batinku. Aku bisa apa? Aku bisa menipumu habis-habisan,berusaha untuk menghindari pertanyaan yang berbau "perasaan", tapi aku tak mungkin menipu diriku sendiri. Aku tak bisa.
Dan..
Hari ini aku belajar berpikir jernih.. berpikir tentang diriku sendiri, kamu, dan wanitamu. Jika wanitamu berhasil menemukan tulisan ini aku akan meminta maaf padanya. Dengan rasa menyesal aku meminta maaf karena mungkin sampai wanitamu temukan tulisan ini pun aku masih belum bisa lepas dari bayang-bayangmu. Selain itu aku juga ingin mengucapkan selamat untuk wanita yang bisa menangkan hatimu, walau sempat terucap sebuah penyesalan karena waktu tak pertemukan kita sebelum kamu memutuskan menjalin hubungan dengan wanitamu, tapi yang jelas selama sebelas bulan terakhir wanita itu mampu membuatmu tersenyum bahagia.
Ketika kamu membaca tulisan ini, aku mau kamu berhenti menganggapku sebagai simpananmu.

Dibawah Sinar Bulan

“Apa cahaya bulan bisa mempertemukan kita lagi?”
“Iya..” jawabnya mantap, “jika aku menyelesaikannya dengan baik, aku akan segera kembali”
Redup cahaya bulan malam ini akan mengakhiri semuanya. Aku akan menjadi wanita desa dan kamu akan menjadi orang hebat di negeri orang. Bangga? Jelas. Namun hati ini masih tak rela melihatnya melambaikan tangan sembari menghilang ditelan gelapnya malam. Ini bukan kali pertama dia pergi meninggalkan aku di bawah temaram cahaya bulan. Desa ini bukanlah rumah baginya, hanya sebatas tempat melepas lelah dan membasuh dehaga dari aktivitas kota.
Semuanya masih tampak sama, bahkan setelah dia menjadi seorang sarjana didikan Jepang. Dia masih menggenggam tanganku erat, sorot matanya membuat isi dadaku bergetar. Mungkin saat ini air mata sudah membasahi pipi. Sampai kapan? Batinku. Akankah semua penantian ini berakhir bahagia seperti di dalam dongeng yang biasa nenekku bacakan? Atau malah sebaliknya. Malam ini aku tak ingin melepas hangat telapak tangannya. Aku masih ingin berlama-lama menatap parasnya.
Dibawah sinar bulan dia memelukku erat. Aku berharap semoga waktu berhenti, biarkan dia tenggelam dalam peluk hangat ini, buat dia lupa dengan semua pekerjaan kantornya, dan tak akan pernah meninggalkan aku lagi.
“Ini sangat membuatku tenang”, ucapnya lirih.
“Tak bisakah kamu tinggal lebih lama lagi?”

Dia hanya diam. Pertanyaan yang sama dengan respon yang sama juga. Ah, aku benar-benar ingin mengakhiri penantian klasik ini, tapi penantian ini tak ada yang memulai dan semuanya terjadi begitu cepat hingga aku tak sempat memikirkannya. Bahkan ketika aku tau bahwa penantian ini akan berakhir sia-sia, aku masih tak bisa mengakhirinya.

Yang Tak Pernah Menganggapmu Ada

Bagaimana kabarmu? Apa kamu masih mengingat aku? Apa kamu masih menyebut namaku dalam doamu? Maafkan aku karena telah mecampakkan kamu untuk kesekiankalinya. Hari ini aku datang dengan tampang pengecut, aku tak berani datang menemuimu secara langsung tapi aku harap seberkas tulisan ini dapat membuatmu mengerti betapa menderitanya aku tanpa kamu.
Sekali lagi maafkan aku karena telah masuk dalam kehidupanmu secara tiba-tiba lalu pergi begitu saja. Aku menulis ini dengan sejuta rasa rindu yang sudah lama menumpuk, dengan rasa bersalah yang terus menggunung, dan dengan rasa lelah karena terus berusaha melarikan diri dari kamu. Sejujurnya aku ingin segera menyerah, bertekuk lutut dihadapanmu, memohon maaf darimu, dan memulai cerita cinta yang baru.. tentunya masih bersamamu. Andai kamu tau tentang semua keinginanku yang tak pernah terpenuhi sejak aku putuskan untuk meninggalkan kamu. Aku hanya ingin bisa menyapamu dengan sebutan “sayang” seperti dulu. Aku hanya ingin leluasa mengucap rasa rindu kapan pun yang aku mau. Sebelum aku tidur aku ingin mendengar gelak tawamu dari ujung telfon seperti malam-malam terdahulu dan satu hal lagi yang ingin aku beri tahukan kepadamu bahwa aku sungguh-sungguh menderita karena semua rasa bersalahku.
Seseorang yang dulu bersedia menjadi pendengar setiaku ketika amarah membuat semua yang aku bicarakan tak ada artinya, seseorang yang berhasil membuat aku bangkit dari keterpurukan, dan seseorang yang telah menyelamatkan aku dari kutukan cinta terlarang kini telah pergi menjauh dariku. Semuanya salahku, aku salah karena waktu itu aku hanya memandangmu dengan sebelah mata. Bahkan aku tak pernah menganggap kamu ada. Maaf.. Aku benar-benar menyesal atas semua keacuhanku terhadap kamu. Sekarang aku tau betapa berartinya kamu setelah kamu benar-benar pergi dari kehidupanku. Semua air mata yang terlambat membasahi pipi pun tak akan bisa memutar kembali waktu atau bahkan menyembuhkan semua lukamu.
Mungkin kamu tak bisa menerima jutaan kata maaf dariku. Aku tau aku memang pantas dihantui rasa bersalah atas ketidak setiaanku kepadamu waktu itu. Semua orang menganggap aku sebagai orang gila karena telah mecampakkan laki-laki sebaik dan setulus kamu, tapi aku tak bisa terus hidup seperti ini. Kepalaku terasa pening ketika seorang terdekatmu datang dan menjudge aku sebagai wanita yang suka mengumbar harapan, wanita yang rajin mengucap kata sayang kepada banyak laki-laki, dan wanita yang kerap datang dan pergi sesuka hati. Jika kamu juga berpikiran sama seperti yang orang terdekatmu katakan padaku, aku masih bisa memakluminya. Iya, aku yang dulu memang seperti itu. Namun aku yang sekarang sudah sedikit berubah dan kalau aku bisa memutar kembali waktu aku tak ingin mengecewakan kamu hingga berkali-kali seperti dulu.

Aku rindu kamu. Apa sahabatmu sudah menyampaikan kata rinduku padamu? Apa kamu juga merindukan aku? Beberapa hari yang lalu aku memang menitipkan salam untukmu. Tak hanya itu, akhir-akhir ini aku juga semakin sering berbalas pesan dengan sahabatmu itu. Dari pertengkaran-pertengkaran kecil hingga hal yang serius sering aku bicarakan dengannya. Ah, aku menemukan kamu di dalam dirinya. Semua kesamaan yang kalian berdua miliki membuat rasa bersalahku semakin menyesakkan dada. Sungguh, aku ingin mengulang kembali waktu hingga aku bisa menghindari semua kesalahanku terhadapmu. Jika waktu itu kembali aku tak akan mengabaikan semua pesan singkatmu. Jika waktu memberiku kesempatan untuk memperbaiki semua, aku janji aku tak akan mengumbar kata-kata sayang kepada banyak orang kecuali kamu. Tapi nyatanya masa lalu itu tak bisa berubah dan aku hanya bisa mengutuk diri atas semua kebodohan yang pernah aku lakukan.

Cahaya Jingga Candi Boko

Sampai hari ini aku masih bisa merasakan getar bahagia itu, walau sudah seminggu yang lalu tapi semua masih terasa nyata, jelas, dan tak ada sedikit pun memori yang terhapus tentang hari itu. Iya, beberapa hari yang lalu aku berlindung dibalik punggungmu saat derasnya hujan mengacaukan agenda hunting kita. Setelah berkunjung ke Candi Ijo harusnya kita melanjutkan perjalanan ke Candi Boko yang katanya memiliki senja nan eksotis. Namun sayang, cuaca hari itu tak memungkinkan kita untuk menanti cahaya jingga dari ketinggian. Hingga akhirnya kamu mengurungkan niat mengunjungi Candi Boko.
Setelah deras hujan sempat membuat sebagian baju dan tasmu basah, akhirnya kita menemukan tempat berteduh. Sebuah bengkel kumuh ditepi jalan menjadi tempat singgah kita untuk menikmati gemericik air hujan dan aroma tanah basah. Tak seindah drama korea yang bisa berteduh berdua saja, kita berteduh bersama banyak orang; ada yang berbaju kumel dengan gerobak dibelakang motornya, ada sepasang muda-mudi dengan baju basah kuyub, dan yang lebih mengharukan lagi ada seorang balita yang terlelap dalam dekap erat ibunya. Sedangkan kamu sibuk memasang cover bag sembari menghisap rokok. Ah, hujan benar-benar melunturkan semua atribut sosial dari setiap orang.
Sesekali aku mencuri pandang pada kamu yang sedang asik menghisap rokok. Dari jarak sedekat ini tentu aku bisa melihat betapa banyak asap yang kamu hembuskan keluar, itu semua membuatku begidik ngeri. Memang sejauh ini aku melihat kamu bukan sebagai perokok berat seperti kakakku, tapi sama saja.. merokok itu bukan hal yang sehat dan merokok itu bukan suatu kebiasaan yang bisa dengan mudah diubah atau bahkan ditinggalkan begitu saja. Sungguh aku sangat membenci seorang perokok macam kamu, tapi aku bisa apa? Disaat seperti ini memang hanya sebatang rokok yang bisa membuat tubuhmu tetap terasa hangat.
Beberapa saat kemudian hujan mulai reda, satu persatu orang yang memenuhi bengkel kumuh itu mulai pergi melanjutkan perjalanannya, termasuk kita. Kali ini aku dan kamu sudah benar-benar membulatkan tekat untuk tidak kembali ke rumah sebelum mendapatkan matahari terbenam. Masih dengan semangat yang menggebu kita memutar arah untuk kembali menelusuri tanjakan supaya bisa memijakkan kaki di sebuah candi yang terletak diatas bukit. Candi itu bernama Candi Boko, sebuah destinasi pariwisata DIY yang menyuguhkan matahari senja dengan warna jingga yang menawan. Sebagai landscaper kita tak bisa melawatkan kesempatan untuk mendapat citraan Tuhan yang sangat menawan itu.
Udara segar bercampur aroma basah akibat hujan lebat beberapa saat lalu membawamu pada nostalgia. “Di kampung halamanku suasananya selalu seperti ini. Tak pernah ada musim kemarau, yang ada hanya musim hujan”, katamu. Sesampainya di lokasi candi, kita sempat kecewa dengan gumpalan awan hitam yang tak kunjung menepi. Namun kekecewaan itu tak berlangsung  lama karena guratan “mejikuhibiniu” nampak jelas di langit, itu menandakan bahwa cahaya matahari telah berhasil menembus gumpalan awan tebal. Akhirnya kita memutuskan untuk terus mengejar senja walau kemungkinan untuk mendapatkan senja sesaat setelah hujan lebat sangatlah kecil.
Sebelum sampai kekomplek candi utama, kita disuguhkan dengan lukisan indah kota Yogyakarta dari ketinggian. Dari jauh juga tampak Candi Prambanan yang kelihatan lebih tinggi dari bangunan-bangunan disekitarnya. Kita terus melangkahkan kaki menuju candi utama yang merupakan tempat para landscaper menjemput sunset. Sampai ditempat, kamu langsung mempersiapkan tripod dan camera untuk mengabadikan sunset ala Candi Boko.


Sunset Candi Boko
Kata seorang penjaja makanan disekitar Candi Boko, sunset akan tampak pada pukul  5 sore atau sekitar 30 menit dari saat kita tiba disana. Namun belum genap 30 menit kita menunggu ditempat itu matahari senja sudah tampak meradang dan kamu segera mengambil posisi untuk ngambil bagian demi bagian terindah dari matahari senja di Candi Boko. Ah, sekali lagi aku terbius dengan kepiawaianmu membidik cahaya senja dan kamu tampak serasi dengan camera ditanganmu. Sungguh aku sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah pertemukan aku dengan ciptaannya yang tak sempurna tapi sarat akan kelebihan; kamu.

Cahaya jingga dari Candi Boko

Makalah Ilmu Politik : PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG DAN MELALUI DPRD


ILMU POLITIK
PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG DAN
MELALUI DPRD


Oleh:
Hanifah Rahmi Zatalina
Manajemen Teknik Studio Produksi Siaran C

SEKOLAH TINGGI MULTI MEDIA “MMTC” YOGYAKARTA
2014



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang menggunakan demokrasi pancasila sebagai dasar sistem pemerintahannya. Perwujudan sistem demokrasi di Indonesia salah satunya adalah pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui pemilihan umum. Baik ditingkat provinsi atau tingkat kabupaten rakyat bisa memilih pemimpinnya sendiri. Dengan system one man one vote rakyat Indonesia bisa memilih seseorang yang dapat mengemban amanah sabagai wakil rakyat. Pemilihan langsung kepala daerah ini adalah ajang partisipasi masyarakat Indonesia dalam politik.
Belakangan ini media masa ramai memberitakan tentang “Pemilihan Kepala Daerah melalu DPRD”. Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). DPRD adalah wakil rakyat yang dipilih rakyat untuk mewakili aspirasi mereka di pemerintahan. Jika dilihat dari pengertian demokrasi itu sendiri dimana terdapat demokrasi secara tidak langsung (representatif demokrasi). Memang dimungkinkan terjadinya pemilihan kepala daerah oleh DPRD. (Omer,2011)
Sejatinya pemilihan umum memiliki tujuan agar masyarakat dapat mengenal sosok pemimpin daerahnya masing-masing. Jika kebijakan pemerintah tentang pemilihan kepala daerah melalu DPRD dihubungkan dengan Pasal 22E ayat (1) UUD NRI 1945 yang berisikan “Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali”, hasilnya akan bertolak belakang. Karena dalam pasal tersebut terdapat kata “langsung” yang memiliki makna bahwa pemilihan kepala daerah dilakukan oleh rakyat secara langsung.
Oleh karena itu penulis perlu mengkaji kebijakan “Pemilihan Kepala Daerah melalui DPRD ” lebih mendalam. Selain itu kasus perlu diangkat guna membandingkan kelebihan dan kelemahan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung dengan sistem pemilihan kepala daerah melalui DPRD.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan maka dapat ditentukan rumasan masalah yaitu:
1.  Apa kelebihan dan kelemahan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung?
2.  Apa kelebihan dan kelemahan sistem pemilihan kepala daerah melalui DPRD?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan pemilihan kepala daerah secara lanngsung. Juga mengetahui kelebihan dan kekurangan pemilihan kepala daerah secara tidak langsung atau melalui DPRD.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Etimologi Demokrasi
Demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan yang memberikan kedaulatan tertinggi ditangan rakyat. Kata demokrasi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari “demos “ dan “kratos”. Demos yang berartikan rakyat dan kratos memiliki arti kekuasaan. Maka dari itu negara yang mengadut azas demokrasi meletakkan kekuasaannya di tangan rakyat.

2.2 Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung
Dalam UUD 1945 Bab VI Pemerintahan Daerah pasal 18 (4) menyatakan bahwa “Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah propinsi, kabupatn, dan kota dipilih secara demokratis”. Tidak ada kata-kata pemilihan langsung sebagaimana dalam pasal yang mengatur tentang pemilihan presiden dan tidak ada kata-kata pemilihan kepala daerah secara tidak langsung atau melalui DPRD. Dalam negara demokrasi perwakilan atau demokrasi tidak langsung, maka memenuhi kaidah demokratis jika pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD. Begitupun dalam  Negara demokrasi langsung pemilihan kepala daerah secara langsung memenuhi kaidah demokratis sebagi bentuk pelaksanaan kedaulatan rakyat. (Dianto,2013)
Ilmuwan politik Juan J Linz dan Alfred Stepan mengatakan, suatu negara dikatakan demokratis bila memenuhi prasyarat antara lain masyarakat memiliki kebebasan untuk merumuskan preferensi-preferensi politik mereka melalui jalur jalur perserikatan, informasi dan komunikasi; memberikan ruang berkompetisi yang sehat dan melalui cara-cara damai; serta tidak melarang siapapun berkompetisi untuk jabatan politik. (Rizal,2013)
Pada awalnya pemilihan kepala daerah dan wakilnya dilakukan oleh DPRD. Namun sejak disahkannya UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pemilihan kepala daerah dilakukan dengan cara pemilihan umum. Pemilihan umum kepala daerah dilakukan oleh KPU Provinsi dan KPU kabupaten serta diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum. Panwaslu itu sendiri terdiri dari kejaksaan, perguruan tinggi, kepolisian, pers serta tokoh masyarakat seperti yang telah ditetapkan dalam Pasal 57 ayat (3) UU No. 32 tahun 2004.
Pada UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pemilihan kepala daerah secara langsung akan dilaksanakan setelah masa jabatan kepala daerah lama telah berakhir. Di indonesia sendiri pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung. Sebelum melakukan pemilihan umum, seluruh kandidat calon kepala daerah dan wakil kepala daerah harus memenuhi syarat yang telah ditentukan pada Pasal 58 UU No.32 tahun 2004.
Peserta pilkada adalah pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Hal ini sesuai dengan Pasal 56 ayat (2) UU No.32 tahun 2004. Namun ketentuan ini diubah dengan UU No.12 tahun 2008 yang menyatakan bahwa “peserta Pilkada juga dapat berasal dari pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang”. Undang-undang ini menindaklanjuti keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan beberapa pasal menyangkut peserta Pilkada dalam Undang-Undang No.32 tahun 2004. (Omer,2011)
Dengan dilakukan pemilihan kepala daerah secara langsung bisa memutus politik olgarki dikalangan elit politik dalam menempatan kepala daerah. Karena kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat maka tidak ada kehawatiran tentang penempatan kepala daerah yang didasarkan pada kepentingan individu.
Pada dasarnya pemilihan kepala daerah secara langsung bisa membuat kepala daerah terpilih semakin bertanggung jawab karena rakyat sendirilah yang memberikan mandat kepada kepala daerah tersebut. Sedangkan pemilihan secara umum sangat rawan terhadap penggelembungan suara dan politik uang. Politik uang itu sendiri kini telah menjadi rahasia umum yang mengakibatkan moral pemimpin yang terpilih dengan politiuk uang menjadi tidak terpuji. Modal pencalonan kepala daerah dengan gaji dan tunjungan ketika menjadi kepala daerah yang tidak sebanding akan mengakibatkan kepala daerah mudah tersandung kasus korupsi.
Disisi lain legislatif dan eksekutif mempunyai tugasnya masing-masing sehingga bisa saling mengimbangi dalam menjalankan tugasnya. Dalam sebuah pandangan dijelaskan bahwa legislatif memiliki tugas untuk menyalurkan kehendak rakyat. Sedangkan eksekutif memiliki tugas untuk mengimpentasi hukum dan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh legislatif.

2.3 Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD
Dalam penyelenggaraan Pilkada terdapat daerah yang memiliki hak istimewa seperti Nanggroe Aceh Darussalam dan Yogyakarta. Di Nanggroe Aceh Darussalam pilkada diselanggarakan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) dan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Aceh (Panwaslih Aceh). Sedangkan di Yogyakarta tidak ada pemilihan kepala daerah khususnya gubernur, karena masyarakat Yogyakarta menghendaki Sri Sultan Hamengkubuono menjadi kepala daerah Yogyakarta seumur hidup.
Pelaksanaan kedaulatan rakyat dapat dilakukan melalui sistem perwakilan. Alasan ini bisa diterima jika saja sejarah menunjukkan bahwa pemilihan kepala daerah di DPRD, baik di era orde baru maupun di era penerapan UU No.2 tahun 1999 meninggalkan catatan sejarah pelaksanaan demokrasi secara baik. Di era orde baru, kepala daerah dipilih olej DPRD dengan persetujuan pemerintah pusat. Catatan sejarah munjukkan bahwa kepentingan DPRD acapkali tidak memiliki hubungan apapun dengan kepentingan rakyat. (Dianto,2013)
Keterlibatan DPRD dalam pemilihan kepala daerah bisa digunakan sebagai tolak ukur dalam mengetahui tingkat kepekaan anggota DPRD terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh rakyat. Sehingga dalam pemilihan anggota DPRD itu sendiri harus dilakukan dengan seobjektif mungkin. Jika kualitas DPRD terjamin maka pemilihan kepala daerah juga akan dilakukan secara objektif tanpa menonjolkan kepentingan pribadi.
Pemilihan kepala daerah yang dilakukan oleh anggota DPRD mengakibatkan partisipasi rakyat dalam berpolitik seakan akan dibatasi. Bila pemilihan dilakukan berkali-kali dihawatirkan akan banyak rakyat yang memilih tidak memberikan suaranya dan tidak efektif karena bosan datang ke tempat pemungutan suara.
Pemilihan secara tidak langsung juga menghemat anggaran belanja negara. Juga tidak merepotkan rakyat yang hendak memilih kepala daerahnya. Namun Pemerintah Daerah bisa saja terhambat dalam menjalankan program serta kebijakan karena adanya mosi tidak percaya dari DPRD terhadap kepala Daerah. Seperti yang dikatan Dianto (2013) bahwa dalam menyampaikan laporan pertanggungjawabannya, Kepala Daerah dihadapkan dengan berbagai persoalan atas kinerja kepala daerah selama tahun berjalan bahkan sering terjadi penolakan laporan pertanggungjawaban oleh DPRD. Sehingga kepala daerah tidak melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana mestinya karena DPRD yang mempunyai kewenangan besar tersebut tidak lagi menjadi pengawas akan tetapi sudah menjelma menjadi penghambat kebijakan dan program yang dilakukan oleh pemerintah daerah.



BAB III
KESIMPULAN
1.       Kelebihan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung
a.   Menghasilkan Kepala Daerah yang bertanggungjawab
b.  Menghapuskan sistem politik oligarki
c.   Menimbulkan keseimbangan antara anggota eksekutif dan anggota legislatif
2.       Kelebihan Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD
a.   Rakyat akan lebih objektif dalam memilih wakil rakyatnya
b.  Menghemat anggaran negara karena tidak perlu mendistribusikan logstik
c.   Tidak adanya politik uang
3.       Kelemahan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung
a.   Biaya yang dikeluarkan negara untuk melangsungkan pemilihan umum cukup tinggi
b.  Rawan terjadi penggelembungan suara dan politik uang
c.   Rakyat enggan menggunakan hak pilihnya
4.       Kelemahan Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD
a.   Pembatasan partisipasi rakyat dalam berpolitik
b.  Adanya mosi tidak percaya DPRD kepada kepala daerah



DAFTAR PUSTAKA
Dianto.2013.Jurnal Ilmiah Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung Oleh Rakyat Dan Melalui DPRD.
Omer,2011. http://bolmerhutasoit.wordpress.com/tag/undang-undang-nomor-32-tahun-2004-tentang-pemerintahan-daerah/
Rizal.2013.Jurnal Konflik Pilkada Dalam Era Demokrasi.