Jawaban Pertanyaanmu (?)

Duduk sini..

Kita butuh bicara panjang lebar untuk selesaikan kemelut yang tak berkesudahan ini. Aku ingin tau bagaimana awal perkenalan kalian, apa yang telah kalian lakukan, dan apa yang sedang kalian rencanakan. Disini, aku sebagai pihak yang merasa dibodohi, ingin mengetahui kebenarannya. 

Baiklah, aku akan jawab pertanyaanmu terlebih dahulu..

Hari itu aku sedang menunggumu menyelesaikan tugas, tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan membisikkan berapa kata padaku. Entahlah seperti dihipnotis aku mengikuti langkah kakinya. Dia menuju sudut ruang yang jauh dari keramaian. 

"Aku mau ngomong serius," ucapnya sedikit gugup. "Sebenarnya hubungan kalian sejauh apa?"

Lama aku mencerna pertanyaan dari dia. Sampai aku menemukan 'kalian' yang dia maksud. "Oh, itu..  ya kaya yang kamu lihat."

Dia menghela nafas dalam-dalam, "Bukan, maksud aku.. perasaan kamu sama dia kaya gimana?"

"Hambar.." 

"Hambar?" ulangnya.

Aku mengangguk mantap.

Setelah percakapan itu.. cerita gila ini dimulai. 

Sudahlah, setidaknya sekarang kita sudah sama sama tau dan sekarang memang sudah waktunya untukku mengetahui keburukanmu. Untungnya aku mengenalmu lebih lama dari dia. Setidaknya aku bisa membaca gelagat aneh dari caramu tutup mulut tentang segala hal yang berbau wanita. Dan pada akhirnya.. ketika kutemukan bangkai itu aku hanya bisa berkata 'Jadi dari sini bau busuk itu berasal..' 

Berganti Posisi (?)

Kalau kamu berfikir aku sedang mencari penggantimu, kamu salah besar. Sampai hari ini belum ada niatan untuk menggantikan posisimu. Biarlah, sampai kapan pun kamu akan mendiami posisi itu. Aku tau betapa sakitnya di paksa beranjak dari posisi paling nyaman di hatimu, oleh karena itu aku tidak tega membiarkan kamu merasakan sakit yang sama.

Meski kamu telah gantikan posisiku dengan orang lain, percayalah, aku akan tetap disini menunggumu pulang. Biar pun berkali-kali kamu tuduh aku menggantikan posisimu dengan orang lain, percayalah, itu hanya halusinasimu saja. Karena di hati ini setiap nama memiliki posisinya masing-masing. Aku tidak pernah mengizinkan orang lain untuk mengisi sebuah rongga yang sudah penuh sesak dengan kamu, dan aku juga tidak ingin buatmu mengisi rongga milik orang lain.

Sekarang tinggal bagaimana kamu menyikapi perang dingin ini. Mulutmu selalu berkilah tiap kutanya "kenapa?" namun hatimu tak akan bisa. Ah iya, kamu memang nomor satu kalau masalah tipu menipu tapi kamu juga harus tau, sehebat apa pun kamu menipu orang lain (termasuk aku) kamu tidak akan bisa menipu diri sendiri. 

Aku tidak memaksamu untuk tetap berada disisiku, aku juga tidak bisa dengan mudah melepaskanmu pada orang lain yang belum tentu bisa perlakukan kamu dengan benar. Maka aku putuskan untuk meletakkan kendali diatas tanganmu, biar tangan kanan kirimu menimbang seberapa berharganya aku, kebersamaan kita, tawa yang pernah kita nikmati bersama, dan ego yang telah lama kita benamkan, jika kamu bandingkan dengan dia yang baru kemarin sore masuk dalam kehidupan kita lalu mengobrak-abrik segalanya.

Untuk kamu manusia termunafik yang pernah ada.
Kamu harus tau.. bahwa aku hanya mencintai kamu, bukan mencintai embel-embel yang melekat ditubuhmu, bukan posisi strategismu, bukan lingkunganmu, bukan juga karena teman-temanmu. Aku hanya mencintai kamu apa adanya.

Terlepas dari adegan tikam menikam beberapa minggu lalu, sungguh aku masih mencintaimu seperti dulu. Semua yang telah kita lalui bersama akan menjadi kenangan, tapi bagiku kamu adalah kamu.. bukan dia atau orang lain.


Jujur (?)

Jujur, aku mencintaimu..

Sangat..

Sangat..

Sangat mencintaimu..

Lalu kamu menjadikan cintaku sebagai batu pijakan untuk melompat ke hati lain. Hati yang belum tentu mencintaimu dengan caramu. Dengan mudahnya kamu gantikan aku dengan orang lain yang entah kenapa membuatku bergidik ngeri. Masih dari sudut pandang wanita, aku sangat mencintaimu, sampai kapan pun akan mencintaimu, bahkan setelah semua yang kamu lakukan dibelakangku, aku masih mencintaimu.


Setia (?)

Kita melangkah bersama
Menikmati sedih ini berdua
Sedihmu jadi bagian hidupku
Tapi bahagiamu bukan lagi tentang aku

Percuma,
Kau bilang cinta tanpa banyak kata
Percuma,
Kau bilang setia tapi ternyata..

Angkringan Jalan Monjali

Sebelumnya Warung Anglo dan Segelas Root Bear


"karena di dalam hati setiap nama memiliki posisinya masing-masing.."

Malam ini dia mengenakan baju flannel kesayangannya berdiri di hadapanku. Di dalam genggamannya terdapat seikat bunga mawar merah kesukaanku. Dia menggapai jemariku sambil berkata, "malam ini kita kemana?" 

Jawabanku masih sama, "terserah".

Dia hanya tersenyum tipis dan melajukan motornya memecah hiruk pikuk jakal malam ini. "Aku punya banyak cerita malam ini," ucapnya penuh semangat.

"Aku siap jadi pendengarmu, ksatria"

***

Jari lentiknya mengitari bibir gelas berisi kopi susu pesanannya. Matanya mengamati kepulan asap tipis dari dalam gelas. Mulutnya sedari tadi mengulang kata-kata yang sama, "aku mau cerita.." "aku mau cerita.." "aku mau cerita.." tapi belum ada satu kisah pun keluar dari mulutnya.

"Serius.." dia menghela nafas berat. "Aku mau cerita beneran"

Aku mengambil posisi senyaman mungkin untuk mendengarkan ceritanya. Jarang-jarang lelaki satu ini berbagi cerita, batinku.

"Kamu tau, aku baru dari rumah Mela buat ngasihin ini.." dia menyentuh seikat bunga disampingnya. "Ini buat kamu. Aku sengaja beli dua, satu buat Mela, dan satu buat kamu." 

"Terima kasih, ksatria!" ucapku kegirangan.

"Jangan senang dulu, ceritaku panjang nih.." dia menghirup kepulan asap dari dalam gelam.

"Cuma dihirup aja? Gak diminum?" tanyaku.

"Kamu lupa ya? Aku punya sakit mag, mana bisa minum kopi." 

"Astaga cintaaa! Aku hampir lupa. Kayanya salah deh aku ngajakin kamu kesini." 

"Santai aja.. harga makanan di sini murah kan? Kalau murah berarti kamu gak salah" dia tertawa sendiri.

"Terserah deh.." aku meminum bagianku. "Jadi, mau cerita apa, cinta?"

"Ceritanya gini.."


***

"Aku gak tau harus mulai dari mana.." lagi lagi dia menghela nafas. "Tadi sore aku beli dua ikat bunga dengan warna dan harga yang sama karena aku sayang kalian berdua. Karena dua bunga mawar ini aku bisa lihat respon yang sama sebanyak dua kali tapi jauh sebelum aku putusin buat beli dua ikat bunga ini aku sudah tau kalau aku bakalan ngelihat akhir pertemuan yang beda," dia terdiam sejenak. Matanya menerawang jauh, seperti menghitung motor lalu lalang, padahal tatap matanya kosong. 

"Maksudnya gimana?" kataku.

"Waktu ketemu Mela aku bawa dua ikat bunga dihadapannya. Biar pun ikat bunga itu sama, tapi aku kasih dia kebebasan untuk memilih karena Mela pacaraku. Sebelum memilih Mela sempat tanya, 'kenapa harus milih? bukannya bunga itu sama aja?' aku jawab 'iya, sama aja kok. kamu pilih yang mana?'. Sampai akhirnya Mela milih ikat bunga dari tangan kananku." 

"Njuk?" 

"Njuk dia tanya lagi, yang satu buat siapa?'' dia natapku lama.

Aku balik menatapnya. 

"Aku jawab bunga itu buat kamu. You know what lah.. dia langsung ngebuang bunga di tangannya. Dia bilang, 'kenapa harus Rara? bisa gak sih sekali aja gausa bawa bawa Rara?' aku cuma diam aja. Aku tunggu sampai emosi Mela reda. Sayangnya, sampai aku pulang pun Mela masih marah-marah" dia mengangkat gelas berisi kopi, hendak meminumnya.

"Stop!" teriakku. "Jangan diminum! Jangan coba-coba minum itu! Jangan mati konyol"

"Bodo amat!" umpatnya.

Segera aku raih gelas itu dari tangannya.

"Yaelaaah, kamu itu lucu. Kalau sudah tau Mela bakalan marah ngapain beliin aku bunga yang sama. Kalau sudah tau Mela marah sekarang kamu mau minum kopi biar mag nya kambuh terus mati?" ucapku dengan nada tinggi.

"Kamu tau? Kenapa aku sekarang duduk disini? Kenapa aku pesan kopi susu? Karena aku pengen lihat marahmu. Karena marahmu beda sama marahnya Mela." dia menghempaskan tubuhnya dikursi.

Aku terdiam. Tak percaya dengan kata-katanya.

"Mela selalu marah tanpa alasan yang jelas. Bahkan masalah kecil dan sepele pun bisa buat dia marah. Sementara kamu? Kamu marah untuk kebaikanku, bukan sekedar melampiaskan emosi aja," ucapnya lirih.

"Lalu?"

"Kenapa harus Mela? Kenapa tidak kamu saja?"

Aku tertunduk lemas.


Kembali (?)

Sudah lama sejak terakhir kita berjumpa dan akhirnya tadi malam kamu pulang. Kamu terlihat kurus, rambut hitammu tampak kecoklatan, rambut cepakmu sudah panjang, tapi raut wajahmu terlihat sumringah. Kita bertatap mata sangat lama. Aku menemukan banyak kerinduan disana.

Kamu melangkah lebih dekat..
Memberiku sebuah kotak hitam berhiaskan pita biru. "Ini apa?" tanyaku. Kamu hanya diam, tersenyum tipis, sambil berusaha mendekapku. Saat tubuhmu lekat dengan tubuhku aku ingin waktu berhenti sejenak. Aku ingin kamu buatku lupa akan setiap detik penantian, setiap bulir air mata, dan sembuhkan setiap luka sayat yang kenangan kita buat. "Sekarang aku lebih tenang," kataku.

Kamu melepas dekapan hangat itu sambil berkata, "Aku bahagia melihat kamu yang sekarang. tetaplah bahagia dengan dunia yang kamu punya. Jangan biarkan aku masuk lagi dalam kehidupanmu. Jangan beri aku kesempatan untuk mengobrak-abrik hidupmu lagi. Setauku, belakangan ini hidupmu sudah mulai tertata."

Aku hanya diam..
Perkataannya membuat mataku terasa panas. Jangan menangis dihadapanmu, aku harus terlihat kuat dihadapanmu, batinku.

"Tapi, kali ini aku mengharapkan kebaikan hatimu. Aku pulang. Walau lama tapi aku pulang. Walau terlambat tapi aku kembali. Aku ingin mengulang bahagia yang sama. Ternyata benar katamu.. diluar lebih dingin dari bayanganku. Maafkan aku," ucapmu lagi.

Aku menunduk pelan. "Kenapa baru sekarang kamu pulang?"

"Maafkan aku yang terlalu sibuk dengan duniaku. Aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa peluk tubuhmu adalah tempat terhangat yang pernah aku punya," suaranya terdengar berat.

Ada isak yang tertahan disana. Namun untuk kesekian kalinya aku tak ingin membukakan pintu untuknya. Aku tidak ingin dia kembali hanya karena di luar sana lebih dingin dari perkiraannya

Sendirian (?)

Kita sedang duduk berdua..
Merasakan sendu bersama
Matamu menerawang jauh
Mungkin sedang menunggu bintang jatuh

Kita sedang memegang buku yang sama
Dalam sunyi ruang baca aku coba mengeja kata demi kata
Puisi lama
Namun diksinya mewakili kita

Kita sedang menikmati komedi putar
Ketika komedi putar berada di atas kita dapat melihat segalanya
Sayang.. komedi putar tak mau berhenti lebih lama
Saat komedi putar menyentuh tanah kamu langsung berjingkat keluar

Dan tinggalkan aku sendirian..

Warung Anglo dan Segelas Root Beer

Sebelumnya Tugu Jogja


Jalanan masih tampak basah akibat hujan tadi sore tapi aku masih kukuh ingin ikut rapat dengan pimpinan redaksinya. Meski udara berhembus dingin dan rapat kali ini tak mungkin selesai dibawah jam 12 malam tapi sekali lagi; aku ikut. Sepanjang perjalanan kamu terus berkicau menyalahkan gaya berpakaianku yang malam ini mengenakan tangtop berbalut kaos tipis dengan belahan dada rendah.

"Anglo lagi.." grutunya.

"Kenapa? Gak suka? Tempatnya enak kok" kataku.

"Iya, tempatnya enak tapi setiap kali ke Anglo kesannya mau rapat. Bukan mau nongkrong happy sama teman."

"Makanya aku ikut, biar kita berasa nongkrong cantik" ucapku sembari memilih duduk di sebuah banggu yang terbuat dari drum bekas.

Seorang wanita menghampiri kami untuk menyodorkan daftar menu. Aku masih asik memilih menu saat tiba-tiba dia menarik daftar menu dari tanganku. "Sudah gausa kebanyakan milih, disini menu andalannya Root Beer. Kita pesan itu aja," ucapnya berbisik. Bodohnya aku hanya mengangguk pasrah mengiyakan tawarannya padahal aku belum tau bagaimana rasanya Root Beer.

"Tenang, minumannya halal kok. Gak beralkohol dan yang jelas gak bikin kamu mabuk," tambahnya.

Kali ini seorang pria dengan nampan berisi dua gelas Root Beer mendatangi meja kami. "Terima kasih," katanya.

Tangannya dengan sigap membuang kedua sedotan yang ada di dalam gelas. "He! Kenapa?" ucapku kesal.

"Kowe ki.. ngombe beer mosok gawe sedotan." matanya memelototiku.

"Eheeem.. ketika orang batak sudah bisa bahasa Jogja," kataku.

"Rasis wooy" katanya sambil terkekeh.

"Kamu tau gak kenapa aku ngeyel minta ikut kamu rapat?" ucapku lirih.

Dia hanya menggeleng dan menatapku lurus.

"Aku kangen kamu," seketika kepalaku tertunduk malu.

"Terus?"

"Yaudah, aku kangen kamu."

"Terus aku harus gimana?"

"Gak tau. Jangankan kamu, aku aja yang kangen bingung harus gimana."

Hening.

Aku mengamati gelas besar yang luarnya berembun, menyisakan sedikit genangan air di meja. "Mungkin dulu aku belum bisa terima kalau kamu sibuk dengan skripsi. Mungkin dulu aku juga belum bisa terima sama situasi dimana kamu bicara panjang lebar tentang perasaanmu ke aku tapi akhirnya kamu malah jadian sama yang lain hanya karena kita beda iman," aku bicara sambil melirik kearahnya. "Tapi sekarang aku sudah bisa terima dan aku kangen kamu."

Dia hanya diam. Menatapku dalam.

"Kamu harus cari pacar, Ra" tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya lama. "Cinta dari orang tua dan adik-adikmu memang sudah lebih dari cukup, tapi kamu juga butuh cinta yang lain," lanjutnya.

"Kenapa? Sekarang aku sudah punya kamu. Aku nyaman sama kamu. Saking nyamannya sampai-sampai aku ngerasa kalau aku gak butuh pacar lagi."

"Ra.. aku gak mau denger apa pun alasan dari kamu. Mulai sekarang coba kamu buka hati dan mulai cari pacar."

"Cariin," ucapku ketus.

Dia hanya diam lalu menyalakan sepuntung rokok dalam genggamannya.

"Saranku, kamu jangan pacaran sama orang dari lingkungan kita."

"Kenapa?"

"Kamu taulah, ketika kita berada di lingkungan yang sama, kita sering ketemu, kemudian kamu jadian sama salah seorang dari 'kita', terus pait paitnya kalian putus, apa yang terjadi? Musuhan" jelasnya.

Aku masih menatap matanya menanti kalimat selanjutnya.

"Kita berdua sudah pernah mengalami itu semua. Dari kita yang gak kenal, terus kita kenal. Dari kita yang hambar biasa aja sampai akhirnya kita punya rasa satu sama lain. Dari kita yang baik-baik saja, sampai dengan tololnya aku membuat keputusan untuk berhenti perjuangin kita dan lebih memilih untuk jelan bareng orang lain. Apa yang kita lakukan setelah itu? Setiap kali ketemu kita cuma berani saling tatap tapi gak berani saling sapa," lanjutnya.

Aku mengangguk pelan.

Dia menarik nafas panjang lalu berkata, "Aku minta maaf karena kejadian tempo hari. Kamu gak salah, pacarku juga gak salah, yang salah aku. Harusnya aku kasih penjelasan ke kalian berdua. Aku kenalin kamu ke dia secara baik-baik biar gak terkesan aku sembunyiin kamu dari dia. Maaf.."

"Mellow banget sih.." ucapku terkekeh. "Santai aja yoo, sekarang semuanya sudah baik-baik saja."

"Aku serius!" bentaknya.

"Hei, sama cewek kok ngomongnya pakai nada tinggi," ucap seorang lelaki sembari menyentuh pundaknya.

"Hehehe.. abis ceweknya ngeselin kaya dia," jari telunjuknya mengarah padaku.

Aku hanya bisa nyengir kuda mendengar ucapannya.

Tetiba Kangen Mantan

Aku menulis bersama secangkir susu coklat panas. Rasanya memang gak seenak yang kemarin, sayangnya susu coklat yang kemarin belum sempat saya habiskan karena lupa.

Kali ini aku lagi gak ingin nulis yang macam-macam. Aku lagi pengen menjadi aku.

Aku cuma mau cerita sedikit tentang ketidakpahamanku sama diriku sendiri. Aku memang jomblo udah lama banget, februari tahun depan aku ngerayain aniv 3 tahun kejombloanku. Tapi hidupku gak sepi-sepi amat kok.

Banyak hal yang sudah aku lakukan selama tiga tahun terakhir. Banyak sekali pencapaian diluar nalar yang bisa aku lakukan selama tiga tahun terakhir. Tapi untuk bisa hilangkan ingatan dan kenangan tentang satu orang ini nggak segampang dapatkan rangking 1 hanya untuk pindah sekolah ke Blitar supaya bisa satu kota dengan manusia yang satu ini. 

Dulu banget, waktu masih SMA kelas 1, waktu masih labil-labilnya, waktu banyak remaja seusia itu sedang bangga bangganya dengan pacar mereka yang bermotor satria, aku cuma bisa banggain status "in relationship" di facebook karena lagi LDR. Hahahaha.. yaelah, anak bau kencur sok LDR. 

Walau pun  di HAHAHA in sama banyak orang, tapi itu adalah satu-satunya cerita cinta yang paling berkesan. Saking berkesannya sampai-sampai sudah tiga tahun putus pun masih gak bisa lupa. 

Dulu banget, waktu aku putus sama dia aku biasa aja kok. Aku strong banget. Sampek suatu ketika dia punya pacar baru. Tau gak hal macam apa yang aku lakuin ketika tau dia punya pacar? Aku nangis. Tau gak aku nangisnya dimana? Di depan bank mandiri alun-alun jember, sampek bikin orang satu rumah heboh. Karena kejadian penuh air mata itu berlangsung antara jam 12 malem sampek jam 2 pagi. Ya bayangin aja, anak orang, cewek, nangis sendirian, pegang kain kecil buat usap umbel, duduk di depan mandir alun-alun, tengah malem, kalo tetiba disaut sama orang kan bisa wasalam. Ilang.

Aku galau berat selama berhari-hari. Untuk kali pertamanya aku yang doyan banget makan tetiba gak pengen makan apapun sampek ibuku heboh sendiri nawarin makanan enak tapi aku selalu nolak. Aku sekolah sudah gak fokus. Kelas satu semester 2 nilai rapotku hancur total. Aku kalut gak karuan. Sampai akhirnya aku kepikiran buat pindah sekolah. Waktu pembagian rapot kenaikan kelas, aku ngerengek sejadi-jadinya minta pindah sekolah di blitar. 

Ibuku bilang, ibu mau pindahin kamu kalau kamu bisa dapet rangking satu. Hello? Dari rangking 13 ke rangking 1 itu jauh banget yo. Harus berapa banyak malam yang aku habiskan untuk belajar? Harus ada berapa banyak jam main yang aku korbankan cuma buat baca buku? tapi ternyata menumbangkan 12 orang tidak sesulit yang aku bayangkan. 

Pada masa-masa itu aku percaya kalau ternyata aku itu bisa, aku gak bodoh-bodoh amat, toh hanya dengan bawa telinga setiap kali pelajaran dimulai aku sudah bisa dapetin nomor satu dalam hitungan beberapa bulan. Pada masa-masa itu aku akui aku lagi sombong-sombongnya.

Sesuai perjanjian awal, aku pun pindah sekolah. Deal! 

Setelah pindah sekolah aku mulai sadar kalau hidup gak semudah yang dibayangin. Tau kan alasan pertama aku pindah sekolah biar bisa satu kota sama dia. tapi nyatanya setelah satu kota dia malah ngilang gitu aja gak ada kabar. Sumpah aku nyesel banget!

Waktu udah akhir-akhir kelas 3 aku sempat kontak sama dia lagi. Dia keterima di UB kalo gak salah di Pertanian. Dari awal kenal sampek sekarang pun yang bikin aku kagum sama dia itu ya cuma satu; dia pinter dalam segi akademik. Plus dia berduit dan bermobil *ehkeceplosan

Curhat kangen sama mantannya udahan sampek disini aja. nanti kalo aku baper terus nangis di alun-alun kidul kan bahaya :)

Tugu Jogja

Sebelumnya Stasiun Lempuyangan


“Sudah dapat?”
Aku menggeleng.
Dia meraih camera di tanganku lalu menekan tombol playback untuk melihat hasil fotoku. “Mau aku ajarin bikin foto bulb?” tanyanya sekali lagi.
“Caranya?”
“Ayo nyebrang ke situ dulu. Kita ambil foto low angle biar Tugu-nya kelihatan gagah,” ucapnya sembari menggandeng tanganku melintasi jalanan searah.
Sesampainya di sebrang jalan, tepatnya di depan sebuah optik, dia mulai mempersiapkan tripod. “Katanya low angle, ngapain pakai tripod?” kataku heran.
“Kamu rela kalau kameramu aku taruh di atas jalan aspal kaya gini?” jawabnya ketus. “Nih, pasang di kameramu,” dia melempar monting tripod padaku.
Aku menyodorkan kameraku padanya. Dengan cekatan dia mengotak atik settingan pada camera. Awalnya dia menekan sambil memutar tombol mode pada kamera lalu mengotak atik tombol yang lain. “Sini aku ajari,” katanya.
“Kalau kamu putar ke tombol modenya pada posisi B kameramu secara otomatis bakalan jadi mode Bulb. Bedanya mode Bulb sama mode manual itu kaya gini,” dia menekan tombol shutter. “Ketika kamu pakai mode manual, kamu cuma bisa atur shutternya sampai 30sec aja. Kalau kamu pakai mode Bulb, kamu bisa tekan shutternya sampai lebih dari 30sec. Jadi mode Bulb waktunya bisa lebih lama,” tututnya panjang lebar.
Setelah mengoceh panjang lebar dia menekan tombol playback untuk melihat hasil foto bulb miliknya. “Nih, jadi..” katanya.
“Baguuus!” seruku.
“Sini coba sendiri,” dia beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di belakangku. “Kamu suka warna biru kan? Kalau di kameramu ini bisa di atur color temperaturnya. Semakin kecil pada lambang  kelvin maka warnanya akan blue-ish atau kebiru-biruan.”
“Biar aku coba,” kataku.
Dia mengangguk lalu berjalan menjauh dariku. Dia duduk di sisi trotoar yang lain, mencari angle lain, katanya agar karya milik dia tidak mirip dengan karyaku. Aku hanya cekikikan setelah mengetahui alasannya.
***
“Sudah dapat?” sekali lagi dia mengulang pertanyaan yang sama.
“Sudah,” jawabku.
“Aku antar pulang sekarang. Aku baru ingat kalau ada beberapa urusan kampus yang sedang menunggu untuk dijamah,” katanya genit.
“Dih, sok sibuk lagi.”
“Memang sibuk..” dia terdiam sejenak. “Kamu masih ingat kata-kataku minggu lalu?”
“Iya, aku ingat. Kamu sudah memulai proyek kedua, kamu sedang mencari dana untuk research skripsi, kamu sedang menyusun proposal skripsi, dan selasa besok kamu seminar proposal. Aku ingat.”
“Maksudku bukan yang itu..” Aku hanya menatap matanya sekejap lalu melewatinya. Dia berusaha mengimbangi langkahku, “untuk semester ini saja.. aku minta pengertiannya.”
Aku mengehentikan langkah. Tersadar bahwa semester ini adalah semester paling menentukan, semester paling berat, dan dia butuh dukungan. “Maaf..” ucapku lirih.
Tangannya menyentuh bahuku, dia berdiri tepat di belakangku sekarang, namun aku takut untuk berbalik arah. “Gak perlu minta maaf..” dia membalik tubuhku. Kini dia manatapku tajam, “Point dari percakapan minggu lalu bukan tentang kesibukanku. Tapi sesibuk apa pun aku atau sesibuk apa pun kamu, kita harus menyempatkan waktu untuk berbagi kabar, karena kesibukan kita dan status hubungan kita yang begitu rumit membuat hubungan ini rentan.”
Hening.
Dia menarik nafas dalam-dalam. “Ayo aku antar pulang,” ucapnya sembari menyeret tubuhku menyebrangi jalan.

Kehancuran yang sama (?)

Kutarik sebatang lagi..
Sudah satu jam kami duduk di dekat jendela sebuah cafe. Aku masih setia mendengarkan sumpah serapahnya meski rasa malu yang kupungut sudah terkumpul banyak. Semua mata tertuju pada kami, bukan kami, tapi dia yang berkali-kali menggebrak meja.
Ditemani secangkir kopi aku mencoba berfikir. Di depanku duduk seorang lelaki dengan baju flanel kotak-kotak biru. Wajahnya merah padam, mulutnya terus mengeja nama-nama hewan dan nafasnya terengah-engah menahan amarah.
Aku menikmati asap yang masuk dan kuhembuskan perlahan. Tak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya diam melihatnya semakin naik darah. Sudah terlambat. Ketakutanku kini menjelma jadi nyata.
Dia terus menyalahkanku atas kebodohan yang dia ciptakan sendiri. Aku sudah lama menanti momen seperti ini, momen dimana dia duduk dihadapanku, menatapku dengan mata berkaca-kaca, dan mengumpat sejadi-jadinya. Sejujurnya aku lebih menanti momen dimana dia sadar bahwa selama ini nasihatku ada benarnya.
Seorang pramusaji mengantar secangkir kopi dan menyingkirkan gelas kosong dihadapannya. Dia mengamati kepulan asap dari kopi tersebut. Air matanya leleh, menyisakan isak yang bersembunyi dalam tangkupan tangan. Aku tak peduli. Bukankah lelaki juga boleh menangis?
Yang bisa kulakukan saat ini hanya mengusap lembut rambut hitamnya. Tanpa banyak kata aku berusaha menenangkan dia. Bagiku disaat genting seperti ini dia hanya butuh seorang pendengar, bukan sebuah komentar.
Perlahan dia mengangkat kepala, menyeka air matanya sendiri, dan menggapai jemariku. Dia ucapkan terimakasih atas semua perhatianku dan ucapkan maaf untuk keegoisannya selama ini, dan dia mulai bercerita seperti orang normal.
Dengan kehancuran yang sama kusulut rokok terakhir. Dia selalu menggunakan ‘KITA’ sebagai kata ganti aku dan kamu. Namun bicaranya mengarah pada cinta yang lain. Aku menelan pahit cerita yang keluar dari mulutnya. Berusaha kembalikan diri ke posisi ‘sahabat’nya bukan sebagai seorang wanita. Mataku tak lepas dari matanya, dia tak berhenti manatapku, dia masih menggenggam tanganku erat.

"Hentikan! Berhentilah! Jangan pura-pura simpati bila nyatanya hati ini terjemahkannya sebagai bahagia. Iya aku bahagia dia merasakan kehancuran yang sama denganku beberapa waktu lalu. Aku bahagia atas deritanya!" batinku.

Stasiun Lempuyangan

Sebelumnya KFC Depan Suka


“Terimakasih..”
“Santai aja..” Buru-buru dia turun dari motor. “Besok aku berangkat ke Brebes jam 7, tapi aku mau ajak kamu sarapan bareng, bisa?”
“Iya, bisa.”
Pasti bisa, batinku.
Dia menyalakan mesin motor sesaat setelah aku menutup pintu gerbang kos.
---
Tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku. “Kamu baik-baik aja?” bisiknya lirih.
Kapalaku masih menunduk saat aku melihat ujung sepatu hitam kesayangannya berada dekat dengan sepatuku. “Kenapa?” ucapnya sekali lagi.
Belaian lembutnya membuatku tak kuasa menahan bulir air mata yang sudah lama mengambang dipelupuk mata. “Masa baru sampek jogja udah nangis aja?” godanya.
“Aku sudah sering bilang, kamu tipe orang yang gampang percaya sama orang lain. Kadang saking percayanya kamu sama orang lain sampai-sampai kamu tertipu; seperti sekarang.” Dia menghela nafas panjang. “Sudah. Kita masih di stasiun lempuyangan lho, di tujuan terakhir kereta api sri tanjung, dan kamu tau..” Dia berbisik padaku, “ini tempat umum.”
Seketika aku mengangkat kepala dan menyeka air mata. Dia memberiku selembar tisu untuk mengusap ingus yang meluber kesegala arah. “Nah, gini kan enak. Aku jadi ngerasa ngomong sama orang. Kamu tau gak? Aku dari tadi berasa ngobrol sama bangku di depan situ.” Tangannya menunjuk deret bangku kosong di hadapan kami.
“Muka kamu pucat. Kamu sakit? Gimana kalo kamu makan roti dulu?” dia menyodorkan roti padaku.
Aku menikmati roti pemberiannya sambil sesenggukan.
“Sudah berapa lama nunggu disini?”
“Sejam,” jawabku singkat.
“Waktu tau temenmu gak ada kamu gak berusaha ngehubungin orang lain?”
“Udah..” Aku menarik nafas panjang, mencoba merapikan nafas agar tidak sesenggukan lagi. “ Tapi, nomornya gak aktif.”
“Usahamu cuma gitu aja?” tanyanya lagi
“Jadi gini..” aku menggeser posisi duduk sampai berhadapan. “Waktu tau temanku gak ada, aku sempat panik dan duduk disini kaya orang bodho. Aku berusaha otak-atik phonebook di hape android karena hape BB-ku batrainya abis. Nama pertama yang terlintas di kepalaku itu Mas **** tapi setelah berkali-kali aku hubungi nomornya gak aktif. Aku mulai hopeless tuh. Otakku mulai konslet waktu salah satu dari empat nomer di handphoneku gak bisa dihubungi. Aku sempat kepikiran buat telfon teman yang lain. Hubunganku sama teman satu ini memang lagi gak baik tapi dalam situasi seperti ini akhirnya aku rela memurahkan diri untuk telfon dia lagi. Dan diluar dugaan, aku kira dia bakalan tutup telfon waktu aku sebutin nama, tapi ternyata dia malah nyapa dengan renyahnya. Sayang, dia lagi kumpul bareng temannya dan gak bisa jemput aku. Dengan rasa malu campur kecewa aku tutup telfon.”
Dia mengangguk. “Untungnya aku lagi di Jogja dan di rumah aja. Jadi waktu baca PM kamu, aku bisa langsung meluncur kesini.”
“Terimakasih..” aku tersenyum kecut. “Bukannya sekarang masih masa KKN? Ngapain di Jogja?”
“Aku kabur dari tempat KKN.”
“Apa iya?” rasanya jantungku mau copot saat mendengar jawabannya.
Dia tersenyum tipis, “kamu masih ingat kan kalau aku ikut proyek dosen untuk menghemat biaya skripsi?” Aku mengangguk. “Aku ke Jogja buat jenguk anakku di kandang karena sudah waktunya sampling.”
“Sampling?” kataku heran.
“Iya, sampling. Sebelum aku mulai proyeknya, aku juga ngelakuin sampling pakai darah dan urin tikus putih itu. Setelah 91 satu hari dipejanin atau diberi obat sambil diteliti, si tikus putih harus di sampling lagi. Hampir mirip kaya hari ke nol, semua tikus putihku diambil darah dan urinnya, tapi untuk hari ke 91 tikus putih sudah waktunya dibedah untuk diambil organ dalamnya supaya tau efek apa saja yang timbul pada jantung, limpa, lambung, paru-paru, hati, dan ginjalnya setelah diberi obat.” Dia menatapku lurus. “Kepo ya?” godanya.
“Lanjutin ceritanya..” aku merengek dengan wajah memelas. Dia tertawa keras-keras hingga  beberapa mata mengarah pada kami.
“Aku lanjutin nih..” Aku mengangguk. “Tidak semua tikus dibedah hari itu juga. Ada beberapa tikus yang dibiarkan hidup selama 14 hari lagi. Tujuannya untuk mengetahui efek yang ditimbulkan setelah pemberian obat dihentikan. Tamat.”
Aku menggeleng kagum, “kereeen!”
“Karena ceritanya sudah selesai bagaimana kalau kita pulang?” dia beranjak dari tempat duduk sambil menenteng barang bawaanku.
Dan aku mengikutinya dari belakang.

Bangunlah,

Bangunlah,
hidupmu tidak akan berubah.

Jangan menangis lagi,
wanita tak tau malu ini tidak pantas kau tangisi
kau lebih pantas menangis bahagia meski kau pun tau
bahagiamu bukan lagi aku.

Sayang,
Aku masih ingin mengganti namamu dengan sebutan sayang.

Terimakasih,
bukan kamu yang “terlalu baik buat aku”
tapi aku yang busuk.

Berbahagialah karena..
hari ini aku memutuskan untuk sudahi kenyataan yang kau sebut drama.
hari ini aku putuskan untuk berhenti menjadi lebih baik
karena kau anggap aku sama saja.

Kau bilang..
Kau bilang kita sudah cukup dewasa untuk menjaga cinta agar tetap segar,
kau bilang kita pasti bisa meski jarak akan menjadi koma diantara kita,
dan masih banyak “kau bilang..” lain yang yakinkan aku untuk bertahan.

Sayangnya,
kau belum bisa percayai kata-katamu sendiri.

Bahkan,
kau masih belum bisa melepas label penipu dari keningku
kau masih anggap aku murahan seperti dulu.

Jadi, mari kita akhiri.


TERAKHIR BERAKHIR

Aku : Pertanyaan buat siapa?

Dia : Menurut kamu?

Aku : Bukan buat aku. Karena kalo emang buat aku harusnya udah ditanyain langsung kan mulai tadi bbman. Nah kamu tanyanya lewat PM jadi banyak kemungkinan..

Dia : Yaudah kalo mikirnya bukan buat kamu? Menurut kmu hape aku ramai bbm? Yaudah intinya kan kamu belom tau aku.

Aku : Intinya, sebaiknya kita gak memulai sebuah percakapan yang menyangkut perasaan. Ketika kita ngomongin perasaan yang ada malah kita tengkar lagi kaya dulu. Karena kita cuma dua orang yang saling sayang dan pernah dibuat jatuh cinta berkali-kali tapi gak pernah punya nyali buat ungkapin.

Dia : Itu kamu tau.. Sekarang gmn?

Aku : Kenapa kita selalu ngebahas kaya beginian di bbm? Dan kenapa kita gak ngebahas ini waktu ketemu? Kenapa!

Dia : Aku pun gak bisa jawab dan gak pernah ada kesempatan yang pas untuk membicarakan itu

Aku : Sebenernya masalah kita cuma 3
1. Aku egois dan kamu juga
2. Kamu kaku dan aku juga
3. Aku gak suka diatur dan kamu juga

Dia : Sudah tahu 3 hal itu. Lalu?

Aku : Lalu dengan bodohnya kita bertahan pada keegoisan masing masing

Dia : Gak mau. Aku berharap jalan beriringan dan bersama

Aku : Jadi?

Dia : Jadi gimana?

Aku : Menurutmu?

Dia : Hubungannya mau tetep gini gini aja. Apa mau lanjut? Jawab

Aku : Lanjut dalam artian kaya gimana?

Dia : Ini tentang status.

Aku : Kalau kamu mau dapet status yang jelas, kamu harus nyatain perasaan kamu langsung di depan aku. Bukan lewat bbm. Gampang kan?



Seratus Hari Pertama

Kami salah,
Karena terlalu memaksakan diri untuk bersama walau perpisahan sudah jelas di depan mata. Kami sadar hubungan ini tak akan memiliki titik temu. Kecuali ada salah satu dari kami yang mengalah. Dan, 'salah satu' itu pasti bukan aku.

Aku,
Bukan seorang muslim yang sempurna. Aku berangkat kuliah menggunakan hijab dan berangkat nongkrong dengan rambut merah tergerai, tapi setidaknya sholatku sudah tertib. Bermodalkan ilmu dari Taman Baca Al-Quran aku terus berusaha mengkhatamkan 30 juz. Mengingat cara membacaku yang masih blekak-blekuk, mengkhatamkan kitab suci pun terasa sulit.

Dia,
Seorang anak pemuka agama. Dia dan keluarganya sangat memegang teguh perintah agama. Disaat laki-laki seusianya malas berangkat ibadah dengan alasan "males" "capek" "gak sempat" "sibuk" dan "gak ada yang nemenin" dia malah dengan senang hati melangkahkan kaki ke tempat ibadah.

Ah seandainya kita melangkah ke tempat yang sama..

Kami sudah coba untuk saling menjauh, berusaha temukan orang yang lebih baik yang tentunya seiman. Tapi hati..

Ketika ditanya, "kalian pacaran?"

Kami bisa saja menipu banyak orang dengan menjawab "cuma temen kok" atau "kita beda, mana bisa jalan bareng". Tapi sekali lagi..

Hati, segumpal daging yang tidak bisa ditipu!

Hari ini adalah hari ke-100 bersama dia. Memang belum layak untuk dirayakan, tapi aku sangat bersyukur telah dipertemukan dengan manusia seperti dia. Semoga tiga bulan yang kami jalani tidak sia-sia dan berakhir bahagia.

Aamiin.

KFC Depan Suka

Sebelumnya Lembah UGM


Saat menjemputku dia mengenakan jaket rei abu-abu dengan celana jins pendek dan sandal jepit ala kadarnya.

"Mau kemana?" tanyaku.

"Cari magrib" jawabnya singkat.

Kami sudah menyusuri lembah ugm sampai lampu merah sagan lalu berbelok kearah jalan kolombo dan menuntaskan jalan gejayan hanya untuk "cari magrib". Hampir satu jam kami menyusuri selokan mataram dan berkutat dikeramaian kota Jogja. Sampai akhirnya dia putuskan untuk mampir di Kaefci depan Suka.

Setelah memesan banyak makanan, kami memilih duduk di bagian luar Kaefci. Dia langsung melahap burger pesanannya. Puas menikmati burger, dia merogoh kantong dan mengeluarkan satu pak rokok plus korek. Dia menarik sebatang lalu menyalakannya.

"Baru buka puasa sudah ngerokok aja" celetukku.

"Biar gak edan" katanya.

"Aku gak pernah ngerokok tapi kok gak edan?"

"Beda" sekali lagi dia menjawab dengan kata-kata singkat.

Aku sudah menghabiskan satu piring spageti dan burger saat dia mulai berkata, "tadi aku mau ngajak kamu makan di preksu deket Gor UNY tapi rame banget. Harusnya aku jemput kamu lebih awal biar bisa makan disana"

"Ooh.. Jadi ini alasannya kenapa mulai tadi kamu diam aja"

"Gini lho.." kali ini dia mendekatkan wajahnya kearahku. " Hari rabu besok aku berangkat KKN. Aku mau makan preksu dulu sebelum berangkat ke Brebes. Aku takut kangen sama preksu.."

"..dan kamu" sambungnya.

Hampir saja air di dalam mulutku keluar lewat hidung ketika mendengar dua kata terakhirnya. Aku menarik nafas panjang agar tidak cegukan.

"Mas, kamu itu KKN cuma dua bulan. Apa iya sampek sekangen itu sama preksu?" jawabku ketus.

Aku teringat waktu terakhir kali kami makan di preksu. Dia memesan ayam geprek dengan cabe 20 sementara aku hanya berani memesan ayam geprek dengan satu cabe. "Dasar lemah!", komentarnya.

"Ah gak peka! Bukan preksunya.. tapi kamu" dengan geram dia membanting tubuhnya ke sandaran kursi.

Aku tak menjawab rayuan yang satu ini karena pikiranku sedang fokus pada ice cream yang jadi menu penutup buka puasa kali ini.

Sekedar Sampah!

Hari ini satu bulan yang lalu aku menangis  semalam suntuk padahal pagi harinya aku harus melakukan praktik produksi televisi. Job desk yang aku dapat tidak main-main, aku menjadi seorang pengarah acara. Tentu aku harus menjalankan rundown dengan benar, memberi arahan pada switcher, dan lain sebagainya.

Aku memasuki ruang studio dengan mata bengkak. Beberapa orang menanyaiku, "Rahmi kenapa?" "Baru diputusin atau Homesick?" sementara aku hanya bisa menjawab dengan senyum kecut.

Menjelang siang hari bengkak dimataku mulai berkurang. Kesibukanku untuk mengkoordinasi all crew dan install alat membuat membuat proses penyembuhan luka ini semakin cepat.

Ah, tiba-tiba sudah satu bulan..

Selama satu bulan ini aku merasa seperti buronan. Seolah aku yang paling salah, aku yang paling jalang, dan aku yang paling hina. Sedangkan kamu? Hahaha! Laki-laki macam apa kamu ini? Bukankah kamu yang selalu mengemis perhatian dariku, kenapa setelah masalah ini merebak kamu seolah tutup mata? Seolah berkata, "aku tidak tau apa-apa, dia yang menggodaku".

Selama satu bulan ini aku dengan susah payah menghindar. Beberapa hari setelah kejadian itu kamu masih terus mengajakku bertemu dengan alibi ingin selesaikan masalah ini. Bahkan sampai satu minggu berselang pun kamu masih berusaha mengajakku bertemu dengan dalih wanitamu butuh bukti. Bukti macam apa lagi? Bukti bahwa aku tidak lagi menjalin hubungan denganmu? Hahaha! Padahal kita tidak pernah punya hubungan apapun.

Selama satu bulan ini aku berusaha mati-matian untuk keluar dari lingkup organisasimu. Tapi sekali lagi, sahabatmu dengan manisnya menarikku masuk. Meminta bantuan ini itu agar aku tidak merasa tersisih. Memasukkan aku kedalam kepanitiaan HUT agar aku tidak merasa terbuang. Mengajakku ngamen bersama di lampu merah Gejayan agar aku tidak merasa dikucilkan.

Lucu!

Hari sabtu dua minggu lalu sahabatmu menyuruhku datang ke Nol KM untuk menjaga stand. Sahabatmu bilang tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong selain aku. Karena semua orang sedang sibuk mendampingi para mahasiswa baru yang akan mengikuti tes keesokan harinya. Dengan lugu, polos, dan tololnya aku datang kesana. Dari kejauhan aku melihat sahabatmu mengitari monumen 1 Maret untuk mencariku. Aku melambaikan tangan, dia membalasnya. Dia mengisyaratkan padaku untuk masuk lewat pintu gerbang dekat benteng. Saat aku sedang asik bercerita ngalor ngidul dengan sahabatmu, tiba-tiba kamu muncul dengan baju panitia. Aku mengumpat dalam hati. Kenapa dia tidak bilang kalau kamu ada disini sebagai panitia, batinku. Aku tak henti-hentinya mengucap sumpah serapah untuk sahabatmu yang dengan rapinya menjebakku.

Pada malam perayaan HUT organisasi aku mengenakan baju yang sama denganmu. Aku dan kamu sama-sama menjadi panitia. Kamu koordinator konsumsi dan aku divisi dokumentasi. Rasanya masih trauma dengan pertemuan sebelumnya, tapi kali ini pertemuan tak bisa lagi dielakkan. Ketika aku menyantap nasi kotak yang sahabatmu dapat entah dari mana, tiba-tiba kamu muncul lagi. Mengacau percakapan sengit kami dan yang lebih parah kehadiranmu membuat nafsu makanku hilang.

Selama satu bulan ini aku tak bisa lupa dengan caramu menimpali caci maki wanitamu. Seperti aku yang paling salah sementara kamu tidak. Seperti aku yang menggoda sementara kamu hanya jadi pihak yang tergoda. Aku rasa kamu tidak cukup bodoh untuk memahami kata-kata ini, "cewek gak akan baper kalo cowoknya gak caper".

Selama satu bulan ini aku belajar untuk memahami bahwa laki-laki yang dulu aku anggap spesial ternyata tidak lebih dari sekedar sampah!

Lembah UGM



Dia masih mengenakan jaket hitam kesayangannya ditambah dengan celana jins panjang dan sepatu nike hitam berjalan tepat di depanku. Menggandeng tanganku menembus kerumunan orang yang mengantri di depan stand makan.

"Bentar lagi magrib. Kamu mau sholat dulu atau makan dulu?"

"Aku mau beli es pisang ijo aja, terus sholat dulu" jawabku.

Dia mengangguk sambil melanjutkan langkahnya menuju sebuah stand es pisang ijo. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuatku merasa kecil. Sesekali dia menoleh kebelakang untuk memastikan aku tidak hilang dalam riuhnya pasar sore di lembah UGM.

Suara adzan magrib telah berkumandang, membuat jalanan lebih lega karena semua orang menepi duduk di trotoar sambil menyantap makanan yang dibelinya dari stand-stand makanan.

Aku melihat sekeliling, setiap sudut menyuguhkan pemandangan yang sama. Ini tahun pertama aku puasa di Jogja. Semuanya masih terasa asing. Kalau dia tidak memaksaku untuk ikut aku juga tidak akan tau kalau selama bulan ramadhan lokasi yang dulunya menjadi tempat Sunday Morning disulap menjadi pasar sore.

Pasar sore di Lembah UGM hampir sama seperti "Sunday Morning". Selain lokasinya yang sama, efek macet yang ditimbulkan juga sama persis. Hanya ada satu perbedaannya; jenis barang yang dijajakan.

Kalau Sunday Morning barang yang dijajakan cukup bervariasi, dari baju, sepatu, kerudung, tas, seprai, selimut, dan kelambu semuanya ada. Lengkap. Tapi pedagang di pasar sore Lembah UGM hanya menjajakan makanan. Walau begitu makanan yang dijajakan cukup beragam, mulai dari es pisang ijo, batagor, es buah, kerak telor, sosis bakar, dan lain sebagainya.

Cup yang tadinya berisi es pisang ijo kini kosong. Setelah membayarkan selembar uang 10ribu dan 2 lembar uang 2ribu, kami melanjutkan perjalanan menuju masjid kampus untuk menunaikan ibadah sholat magrib.

Sekilas Tentang Kamu

Sekilas tentang kamu, seorang laki-laki yang sedang berusaha mati-matian menghilangkan namaku dari dalam ingatan.

Ini kali kedua, tapi aku sama sekali tak pernah bertemu denganmu. Sampai kapan kamu menghindar dari aku?

Beberapa hari lalu kamu bicara tentang "Jadi diri sendiri". Apa kamu sudah benar-benar jadi diri sendiri? Apa kamu sudah cukup jujur pada dirimu sendiri? Ayolah, kita hanya saling jatuh cinta bukan berniat untuk saling bunuh.

Hari Rabu lalu kamu mengenakan baju praktik dengan celana coklat plus sandal perahu kesayanganmu itu. Kamu berjalan melewati aku yang duduk di bangku bawah pohon mangga dekat tempat parkir. Apa ekor matamu tak menangkap siluetku yang terus menerus mengamatimu? Sampai kapan kamu harus pura-pura buta?

Jumat lalu aku berulang tahun. Kamu tau.. Dihari itu aku hanya menunggu dua kata dari kamu. Iya, hanya dari kamu. Sementara kamu? Hahaha!

Jangankan diberi kado, diberi sedikit waktu untuk bertemu saja aku sudah merasa bahagia. Sayangnya kamu lebih memilih menyibukkan diri dengan serentetan aktivitas yang entah sungguhan atau hanya dibuat-buat.

Sehari berikutnya, aku sedang di garasi Gedung C saat kamu berada di Gedung yang sama pula. Aku hanya ingin membelikanmu satu cup ice cream karena aku belum cukup egois untuk menikmati bahagiaku sendiri, tapi sekali lagi kamu menghindar. Sebenarnya isi otakmu itu apa?

Sekilas tentang kamu, laki-laki yang terlalu munafik untuk berkata "Aku sayang kamu".

Saranku kamu jangan terlalu memaksakan diri untuk menyingkirkan aku dari hidupmu karena hati kecilmu masih memilih aku.

Kebahagiaan Malam Ini

Seseorang dengan jaket merah marun sedang duduk di depan salon. Wajahnya tak asing lagi. Dia menyanding sebuah kotak kecil yang dibungkus kantong plastik berwarna putih.

"Hai.." Sapaku hangat. "Sudah lama nunggu disini? Maaf ya, tadi ada workshop di kampus."

"Iya gapapa, santai aja. Aku baru sampai juga kok."

Melihat banyaknya puntung rokok yang tercecer di sekitar tempat duduknya tadi membuatku tau kalau dia sedang berbohong. "Jangan bohong. Kamu sudah lama nunggu kan?"

Dia hanya tersenyum tipis. "Ohya.. aku bawain ini buat kamu. Tapi tunggu, aku hidupin dulu lilinnya."

Setelah semuanya siap dia menyodorkan kue tart dengan beberapa lilin diatasnya, "Jangan lupa make a wish dulu". Lagi-lagi senyum simpulnya membuat hatiku rontok.

"Waaaa! Terimakasih!"

Buru-buru aku merapal doa lalu menarik nafas panjang dan meniup lilin. Jari telunjukknya mencolek krim yang ada di atas lalu mengoleskannya di hidungku.

"Maaf cuma bisa beliin kue tart kaya gini di toko roti sebelah, gak bisa beliin kado juga"

Aku menatapnya lurus. "Ini sudah lebih dari cukup. Aku tau akhir-akhir ini kamu sibuk. Kamu sibuk dengan kuliah, praktikum, proyek, dan sebentar lagi kamu KKN. Ketika kamu datang kesini dan sisihkan sedikit waktumu hanya untuk ucapkan Happy Birthday rasanya sudah lebih dari cukup. Karena aku tau waktumu sangat berharga, tidak bisa diganti dengan uang, tapi demi aku.."

Belum sempat aku menyelesaikn kalimat terakhir tiba-tiba dia maju dan memelukku. Waktu berhenti berputar. Mendadak suara bising kendaraan pun tak terdengar. Aku hanya bisa mendengar degup jantungnya. "Terimakasih buat pengertiannya. Terimakasih juga karena sudah mau dipeluk."

Aku segera menyingkirkan lengannya. "Dasar bodoh!" batinku. Ayo bangun! Ini bukan drama korea yang bisa melakukan adegan mesra di sembarang tempat. Aku sedikit mendongak karena penasaran dengan ekspresi wajahnya. Tawaku hampir saja meledak saat mendapati wajahnya yang merah merona.

Lama kami duduk di depan salon sambil menonton kendaraan lalu-lalang. Sekedar informasi, kebetulan aku ngekos disekitar jalan kaliurang. Tepatnya di belakang sebuah salon. Peraturan ditempat kosku sangat ketat, tidak ada laki-laki yang boleh masuk ke dalam kos. Jadi ketika ada teman laki-laki bertandang ke kos aku biasa menemuinya di depan salon alias di pinggir jalan.

"Udah jam 10 nih. Aku mau pamit dulu ya. Lagian besok pagi aku ada acara bersih-bersih maskam," dia berkata dengan sangat hati-hati. Seolah-olah aku adalah wanita yang sangat mudah tersingguh.

"Ooh.. Iya iya. Acara khusus untuk para mahasiswa yang hendak mengikuti KKN kan?"

"Kok kamu tau?" Dia selalu menunjukkan ekspresi heran saat aku tiba-tiba melanjutkan ceritanya.

"Tau dong.. Udah sana kamu pulang terus tidur. Aku tau kamu seharian ini ribet sama proyek. Kamu juga belum makan dari pagi. Dan sepertinya kamu juga belum mandi dari pagi."

Kali ini dia tertawa keras, "kamu paling tau ya."

 Sebelum pulang dia mengelus kepalaku sambil berkata, "jadi anak yang baik ya. Sholatnya jangan bolong-bolong lagi. Konsisten sama kerudungnya. Rajin belajar. Fokus kuliah juga."

Aku mengangguk mantap. Aku sengaja berdiri di depan salon sampai dia menyebrang jalan dan menunggu sampai bayangannya hilang berbaur dengan pengendara motor yang lain.