Kesan Ketiga, Pria, dan Pra Rapat Perdana

Satu minggu terakhir aku, Pria, Reo, Banyu, dan Geraldy disibukkan dengan berbagai deadline terkait film pendek gagasan Pria. Entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba malam itu Pria mengumpulkan kami berempat untuk membahas konsep pembuatan film pendek. Katanya kalau film ini bisa selesai dan layak tayang, Pria akan mengikut sertakan karya kami berlima dalam sebuah ajang penghargaan film pendek.

Aku tidak pernah ragu pada kreativitas yang ada di dalam kepala Pria. Semua hal yang di ucapkan memang tidak akan pernah terpikir oleh manusia pada umumnya. Salah satunya film pendek ini. Lagi-lagi dia ingin mengangkat tema seorang pahlawan, tapi tidak melulu tentang seorang yang rela mati di medan perang. Otakku berkerja keras untuk mencari ujung pemikiran dari seorang Pria. Entahlah! Aku menyerah!

Sampai detik dimana kumpul kedua harus dilakukan, pikiranku masih belum bisa mengerti apa yang Pria inginkan. Kumpul kedua dilaksanakan tak jauh dari tempat mereka berempat tinggal; tempat kos Pria, Reo, Banyu, dan Geraldy. Sialnya setelah mereka berempat kehabisan akal untuk mengerucutkan tema yang mereka sepakati sendiri, tiba tiba Reo mengetuk pintu kosku tepat pukul 10 malam. Gila memang. Lebih mengejutkannya lagi Reo memintaku untuk membawa selimut dan celana kolor untuk persiapan kalau ternyata adegan kumpul kedua ini tidak selesai dalam waktu dua jam.

Ya, sesuai dengan perkiraan Reo. Sampai pagi pun kumpul kedua itu tidak juga membuahkan hasil. Sampai jam 10 siang, sesaat sebelum Reo pergi ke kampus untuk konsultasi dengan dosen pembimbingnya, sebuah ide brilian muncul dari mulut Pria. “Bagaimana kalau kita menyoroti single parent?” ucapnya dengan penuh rasa lega.

“Bisa..” jawab Banyu datar.


***

Malam ini akan dilakukan rapat perdana all crew pembuatan film pendek yang digagas Pria. Pukul delapan di Bujang, tulis Pria pada pesan singkatnya. Dia memintaku untuk mampir ke tempat kosnya sebelum menuju ke Bujang. Katanya ada beberapa hal yang perlu diperjelas. Aku pun mengiyakan perintahnya.

“Assalamualaikum,” tanganku hampir saja lecet akibat terlalu lama mengetuk pintu kamar Pria. Sampai rasa putus asa menguasai alam bawah sadarku pun tak ada jawaban dari si empunya kamar.

“Assalamualaikum,” aku berjanji, ini ucapan salam terakhirku. Jika tidak ada satu orang pun yang menjawab, aku akan angkat kaki dari tempat ini.

Aku baru mundur satu langkah dari depan pintu, bertekat buat meninggalkan pintu keparat di depanku ini, ketika ada suara gagang pintu yang bergerak.

“Sudah lama berdiri disitu?” senyum kecut itu muncul dari wajah Pria.

“Sini masuk,” dia berjalan terseok-seok menuju meja computer di sudut ruangan. “Maaf, tadi saya masih ngumpulin nyawa, jadi lama bukain pintunya.”

“Santai wae..” aku tersenyum maksa.

“Jadi gini, Ra, ada beberapa orang yang sudah saya pilih untuk terlibat langsung dalam pembuatan film kita. Tapi sebelum aku ngelamar mereka untuk jadi crew saya mau kamu lihat dulu list namanya.”

Aku mengamati satu persatu nama yang ada di dalam list tersebut.

“Gimana?” tanya Pria.

“Yak.. anda sudah memilih orang-orang yang tepat pak produser,” aku menjabat tangannya.

Pria terkekeh. “Kamu tunggu disini sebentar ya, saya mau mandi dulu, lalu kita berangkat ke Bujang bareng.”

“Shaaap bosku!”

***

“Kamu tau..” ucap Pria setelah keluar dari kamar mandi. Aku hanya menggeleng. “Saya gugup,” lanjutnya.

Seng semangat boss!” kataku sambil mengepalkan kedua tangan.

Pria membalasnya dengan dua kepalan tangan.

“Yuk..” ajak Pria setelah berdandan rapi menurut versinya sendiri.

“Reo?”

“Ah.. Reo belum pulang dari tadi sore. Katanya mau langsung nyusul ke TKP”

Keluar dari kamar Pria aku mendongak ke atas, mengamati kamar gelap di ujung koridor lantai dua yang sedang ditinggal pergi penghuninya. “Reo pasti nyusul kok, Ra” ucapnya genit.

Aku tersipu malu mengetahui Pria memergokiku mengamati kamar Reo.

Mas, sekarang aku sudah dewasa..

Malam ini aku hanyut dalam tiga tahun lalu, dimana kamu dan aku sering berbalas BBM sampai larut malam, dimana kamu dan aku rajin melempar rayuan gombal dalam setiap aksara. Aku bisa tertawa guling-guling ketika membaca screenshot chat BBM kita, waktu itu aku masih pakai BB dengan aplikasi screenmunched, itu lho aplikasi yang bisa bunyi krauuuuk sambil getar kalau dipakai screenshot. Udah jadul banget dan terasa basi kalau harus dibahas sekarang.

Celakanya hal basi itu mengingatkan satu hal yang tak berbekas lagi. Sebuah kenyataan kalau ternyata kita pernah lebih dari sekedar dekat. Kalau aku putar otak sekali lagi, aku tidak akan menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan, “sebenarnya kita ini apa?”Jelas tidak ada jawabannya karena waktu itu aku terlalu kecil untuk menagih kejelasan dari caramu ngegombal, titik dua bintang diakhir kalimat dalam chatmu, dan caramu memberikan dukungan penuh dalam hal tulis menulis.

Ohya, karena kamu, sampai hari ini aku masih aktif menulis meski kamu tak lagi mengikuti tulisanku. (aku kangen). Jangankan mengikuti tulisanku, waktu aku ulang tahun saja kamu mengucapkan selamat lewat message facebook karena merasa kontak bbmku hilang. Padahal sampai detik ini kita masih menyimpan kontak bbm satu sama lain meski tak pernah sempat untuk berbagi kabar. Bukan tidak sempat, tapi tidak pernah berusaha untuk saling menyempatkan.

Karena jauh disana, entah dimana kamu berada, jauh disana kamu sedang sibuk mencari sesuatu yang belum kamu temukan. Dan ternyata sama, di sini, di Jogja, aku juga sedang sibuk mencari sesuatu yang belum aku temukan. Kita terlalu sibuk memikirkan hidup masing-masing sampai melupakan tiga kata yang mengejutkan; kita pernah dekat. Jangan terkejut dulu. Ada satu hal lagi yang harusnya membuat kita terkejut bersama; kita tidak pernah kehabisan topic bahasan.

Aku sudah lupa kapan terakhir kita berbalas pesan, mungkin awal bulan Januari kemarin, saat kamu ulang tahun. Tapi kelihatannya chat kita hanya bertahan beberapa baris saja. Berakhir karena kamu mengirim kata hahaha padaku dan aku paling malas dengan kata hahaha itu. Lagian kalau dilihat-lihat, dulu aku paling suka dengan gombalan dari kamu, tapi sekarang aku lebih tertarik pada kejelasan. Jadi, kalau disuruh ngelucu dan ngikuti alur ngelucumu aku sudah tidak sanggup.

Kamu tau, aku kangen, kangen banget malah. Kangen pada kedekatan kita dulu, kangen pada ucapan selamat pagi dari kamu, kangen pada cara kamu meyakinkan aku untuk terus nulis sambil bilang ‘tetap nulis ya suatu saat pembacamu akan banyak’ padahal sampai hari ini setiap postingku pembacanya tidak pernah menyentuh angkat 50. Ohya, aku juga kangen sama banyolanmu dan aku sudah gatel banget pengen tanya ‘kapan nikah?’ padahal kalau kamu mendadak nikah aku bakalan syok.

Dari sekian banyak hal yang aku kangenin ada satu hal yang benar-benar aku kangenin. Aku kangen kamu yang ganteng. Sekarang kamu keliatan tua banget hahaha Kurus kaya orang cacingan dan udah gak keren kaya dulu. Kamu harus jaga kesehatan, jangan banyak begadang, rokoknya dikurangin, kalau pulang kerja jangan lupa makan, jangan kebanyakan ngegame, jangan terlalu mikirin aku juga. Disini aku sudah bertemu seseorang yang suka nulis blog kaya kamu waktu masih muda. Beberapa waktu lalu ketika aku mutung dan memutuskan untuk berhenti nulis, dia juga nyemangati aku buat nulis lagi.

Kamu ya! Kalau keinget sama kamu, aku suka sebel sendiri. Bukan sebel sama kamu, tapi aku sebel sama takdir yang bikin selisih usia kita jauh banget dan dengan nyebelinnya lagi takdir mempertemukan kita disaat aku masih labil. Yakali cowok lulusan pendidikan ekonomi, mantan anak band indie Jember, kerjanya jadi pegawai bank yang seusia kamu tertarik sama aku yang masih SMA. Apalagi waktu kita dekat kamu baru aja pacaran sama mbak mbak cantik. Siapa ya namanya? Kotang? Yang model itu lho.

Ngomongin tentang pacarmu, pernah suatu hari aku mendadak kesel sendiri, padahal harusnya kita kesel berdua biar aku bisa salahin kamu. Waktu itu tiba-tiba aku pengen stalking twittermu dan oh my god, who is she? I get drunk on jealousy banget. Lama gak stalking twitter kamu tiba tiba kamu punya pacar baru yang kondisinya lagi garap skripsi. Lebih ngeselinya lagi isi mention kalian gak jauh dari kata kowe kudu cepet mari skripsine cek ndang tak lamar. Itu artinya sesaat setelah mbak itu lulus kuliah kalian bakalan nikah. Oh no! Aku gak rela.

Banyak hal yang pengen aku ceritain tapi kamu terlalu asik dengan duniamu dan aku terlalu egois dengan segala macam kesibukanku. Kalau duniamu sudah gak asik lagi, jangan lupa pulang ya, pintu hatiku masih terbuka untukmu *eaaaa!

Semoga kamu bisa jatuh cinta pada aksaraku,
karena bagimu
“jatuh cinta pada aksaranya lebih ganas
daripada jatuh cinta pada tubuhnya”
(tweet Dec 20, 2013 6:17am)


Kesan Kedua, Revisi Tujuh, dan Film Pendek



"Ra, bangun. Tidurnya di kamar aku aja" ia menepuk bahuku pelan-pelan. "Disini dingin, Ra, nanti kamu masuk angin loh"

"Aduuh, aku gak kuat jalan. Ngantuk banget, Re" 

"He! Bangun nggak? Aku seret nih!" 

Mataku terbelalak setelah mendengar teriakannya. "Apasih?" bentakku.

"Apanya yang apasih? Kalo kelamaan disini lo bisa masuk angin bego!" 

"Iya deh iya.." aku menyeret kaki menuju kamar tidur Reo. 

Kamar kos Reo adalah sebuah ruangan tiga kali tiga yang bisa menghadirkan cerita tersendiri Selain memiliki aroma khas antara parfum dan rokok, ruangan ini juga bisa membuatku betah berlama-lama disana. Padahal setiap kali aku main ke tempat kosnya, Reo selalu duduk di depan laptop dan sibuk dengan tumpukan buku, catatan, dan lembaran foto hasil lab lambung, paru-paru, jantung, ginjal, dan hati tikus kesayangannya. Walau pun kadang aku suka jengkel dengan perlakukannya, tapi setidaknya mengamati cara kerja dia yang tak kenal waktu dan berusaha memenuhi targetnya sendiri membuatku merasa 'aku pengen punya semangat kaya Reo'.

***

Sudah jam tujuh pagi, itu artinya aku melewatkan waktu sholat subuh, dan aku baru kepikiran sama keadaan Reo yang tadi sudah mimisan tapi kamarnya malah aku bajak. Dia tidur dimana semalam? batinku. 

Buru buru aku merapikan tempat tidur agar bisa segera keluar kamar dan mencari tau dimana Reo tidur semalam. Setelah beres aku bergegas keluar kamar. Kudapati seseorang sedang tidur di depan teras kamar berbalut selimut hijau pupus tebal bersama tiga orang lain. 

Aku melangkah perlahan melewati tubuhnya. Saat kakiku berada tepat di depan tubuhnya, handphone milik Reo berdering. Seketika Reo langsung bangun dan duduk, mencari letak handphonenya. 

"Selamat pagi, Pak.." ucap Reo setengah sadar. "Iya, pak, jam 10 drafnya sudah ada di meja bapak." Reo berkedip padaku. Bibirnya memberi isyarat padaku untuk menyalakan PC. "Baik pak, terima kasih."

Reo menarik nafas dalam-dalam. Sesekali dia menggelengkan kepala sambil berusaha mengumpulkan nyawa. "Ra.." panggilnya.

"Ha?" 

Kini Reo duduk di belakangku menghadap monitor yang sama. "Coba buka folder skripsi, cari yang ada tulisannya revisi tujuh" ia mengamati setiap tulisan yang ada di situ. Namun tiba-tiba kepalanya disandarkan pada bahuku. "Sebentar aja.." ucapannya nyaris tak terdengar.

Tak berselang lama ia mengangkat kepalanya. "Langsung print aja, Ra" perintahnya.

"Emang udah kamu revisi?" 

"Udah, sebagian." jawabnya datar-datar saja.

Reo menyambungkan handphone dengan kabel speaker di dekat pintu kamar. "Bangun woy!" Reo meneriaki tiga manusia tak berdosa yang tergeletak dilantai teras depan kamar.

"Ra.." 

"Kenapa lagi, Re?" aku menoleh ke belakang. 

Pria cuma tersenyum, "Suara kami memang terdengar sama"

"Eh, enggak kok, maaf"

"Santai aja.." Pria menyalakan rokoknya sambil duduk di depan pintu. "Untung ada kamu, Ra" ucapnya tiba-tiba.

"Maksudnya?" 

"Cewek mana sih yang rela tidur di tempat kos cowok cuma demi nyumbingin konsep buat film pendek konyol  bikinan anak eksak kaya kami," pandangan kami beradu. Aku mencari penjelasan lebih dari ucapan 'untung ada kamu'. 

"Ah, lupakan.. lupakan.. masih pagi," lanjutnya.

Harapan Baru



Pantai Payangan, 17 Februari 2016


Sudah tiga tahun..

Aku tidak mengenang masa jombloku yang udah tiga tahun, tapi aku mengenang betapa hebatnya enam bulan bersama kamu, dan mengenang betapa menyakitkannya menerima kenyataan. Tahun ini kamu merayakan aniv ke dua dengan wanita bernama Desi dan ditahun yang sama aku ikut merayakan kebahagiaanmu sendirian. Walau pun sendirian setidaknya aku ikut merayakan kebahagiaanmu. Meski seorang diri setidaknya aku masih menjaga namamu.

Menerima kenyataan bahwa kamu tidak lagi sendiri adalah kenyataan pahit yang kukecap disetiap lima waktuku. Meski akhir akhir ini aku menyisipkan nama baru di dalam doaku tapi nama itu belum bisa buatku berhenti menyebut namamu. Memang bodoh.. tapi inilah aku wanita bodoh yang biarkan hatinya sesak tergenang kenangan. 

Hari ini aku ingin meletakkan kamu pada posisinya. Aku ingin menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Kamu, kenangan, boneka sapi imut itu, baju batik sarimbit yang mahal itu, gantungan kunci belahan hati, kartu ucapan selamat ulang tahun dari kamu bertahun tahun lalu, dan kurang beberapa rupiah lagi aku bisa membeli helm baru agar semua tentangmu tidak lagi menggelayutiku. 

Setibanya di Jogja aku tidak akan memeluk boneka sapi imut darimu lagi. Pasti sulit untuk membiasakan diri memeluk boneka lain kemudian mengubah posisi tidur ternyamanku, tapi aku yakin bisa. Mungkin dalam beberapa hari aku akan semakin sulit tidur tapi aku rela korbankan malamku demi mengubur kenangan bersamamu.

Baju batik sarimbit itu baru saja aku keluarkan dari lemari baju. Lama aku mengamati baju itu, mengamati modelnya, merasakan lembut kainnya, dan menalikan pita yang sudah lama lepas. Apa kabar dengan bajumu? Masih berdiam di dalam lemari atau sudah terbakar amarah orang tuamu saat tau bagaimana keadaanku? Tekatku sudah bulat, aku melipatnya dengan hati-hati dan memasukkannya kedalam kardus dan menaruhnya di lemari tempat baju tak terpakai.

Gantungan kunci belahan hati darimu sudah hilang sejak SMA kelas 2. Saat itu kamu masih rajin menghubungiku dan kudapati kemarahanmu ketika tau bahwa gantungan kunci yang katanya limitit edisen itu terlepas dari kunci motorku. Maaf..

Ah, kartu ucapan selamat ulang tahun itu dulunya kujadikan penghangat dompet. Namun baru saja aku keluarkan dari dalam dompet yang mulai penuh dengan kwitansi pembayaran dan beberapa nota garansi alat elektronik di kosan. Harusnya sejak dulu aku lakukan ini semua.

Doakan semoga rejekiku lancar agar dapat menanggalkan helm ungu abu abu penuh dengan stiker itu. Kemudian membeli helm baru yang lebih bagus dan bisa menghilangkan kenangan kenangan gila tentang aku dan kamu.

Terima kasih untuk enam bulan terhebatnya. Aku telah menyingkirkan segala sesuatu yang berbau kamu dan aku siap membuka hati untuk yang baru..

Malioboro dan Kesan Pertama

Sebelumnya Medan Jogja Jember


Reo meletakkan satu cup ice cream lalu duduk disampingku. "Tumben duduknya gak berhadapan?" tanyaku heran. Dia cuma nyengir kuda tanpa menjawab pertanyaanku.

Malam ini hujan membasahi jalan Malioboro dan di malam ini juga manusia berjaket merah ini mengajakku menikmati makan ice cream ditemani setiap rintik yang jatuh. Katanya agar semua kenanganku tentang mantan segera luruh bersama hujan. Aku tertawa keras saat mendengar alasannya. Setauku rintik hujan bisa menghidupkan kenangan masa lalu. Ah serem..

Aku sedang asik menikmati ice cream ketika manusia penikmat hujan ini berdiri menyambut kedatangan seseorang. Mataku mengamati seorang lelaki dengan jaket warna hijau army mendekat kearah kami. "Bajingan! Apa kabar?" Reo merangkul lelaki itu. 

Setelah basa-basi busuk sambil berdiri akhirnya Reo mengajak lelaki itu duduk semeja dengan kami. "Nih kenalin sahabat aku.." ucapnya penuh semangat.

"Pria" 

"Rara.." 

"Ra, Pria ini suka nulis puisi. Kadang nulis lagu buat bandnya juga," jelas Reo padaku.

"Waah, kak Pria punya band?" kali ini aku mulai tertarik dengan topik bahasan ini.

Pria cuma mengangguk saja.

Hening..

Topik pembicaraan kami habis dan aku kembali fokus pada ice cream di hadapanku. Aku melihat kedua bocah tengik dihadapanku, Reo sedang asik berbalas pesan dengan Mela, dan baru saja Pria mengeluarkan pensil dari tasnya lalu menggambar makhluk astral di kertas bekas nota pembayaran.

Mataku tak bisa lepas dari jari lentik Pria, jarinya terus menari indah diatas kertas. "Woy! Mata lu bisa lepas ngeliatin Pria dari tadi!" kali ini Reo mengagetkanku.

"Hussst! Diem deh. Liat tuh gambar makhluk astral bikinan Pria udah hampir jadi," jawabku dengan geram.

Pria memandang kami berdua dengan muka bingung. Reo nyengir sambil berkata, "Rara orangnya memang udik, gampang heran."

Sekarang giliran Pria yang nyengir. "Kalian kalau lagi jalan bareng suka asik sendiri kaya gini?"

Aku dan Reo saling berpandangan kemudian mengangguk kompak.

"Oh.. Aku kira karena kalian sahabat jadi banyak hal yang bisa diobrolin. Curhat kek. Ngomongin orang kek. Atau apa kek.." tutur Pria.

"Biasanya sih Reo hobi ngomongin Mela, berhubung mereka lagi baikan jadi gak ada topik bahasan.." aku menjulurkan lidah di depan Reo.

Pria terkekeh geli. "Ohya, sudah jam 9 nih. Aku balik duluan ya.. ada janji sama orang," dia pun melambaikan tangan dan berlari menuju pintu keluar. Namun beberapa saat kemudian Pria kembali menghampiri kami. "Ra ini buat kamu. Disimpan ya, kalau kita ada waktu bertemu lagi, aku buatkan yang lebih bagus dan rapi".

Aku melihat kertas nota pembayaran bergambar makhluk aneh di tanganku.


***

"Pria.." ucap Reo. "Kesan pertama kamu tentang Pria.." lanjutnya.

"Oh.. Kesan pertama ya.." aku berfikir sejenak. "Pria itu tinggi, kulit sawo matang, mata panda, rambut panjang bergelombang, dan berkumis tipis".

"Keren?"

"Lumayan," jawabku.

"Dasar jomblo belagu! Cowok kaya Pria di bilang lumayan. Terus cowok keren versi lu kaya gimana, Ra?" Reo melangkah mendahuluiku sambil menggerutu.


Manusia Pesisir 2

baca juga Manusia Pesisir 1


Di lain cerita aku pernah bertemu pemuda Singaraja di kelas Geografi sewaktu SMA..

Predikat siswa baru masih melekat padaku, warna seragam yang birunya lain dengan yang lain, dan kerudung yang masih polos tanpa ada bet nama. Waktu itu aku sedang rajin rajinnya cek twitter sambil sesekali berbalas mention dengan teman lama atau teman baru. Ada salah seorang teman baru yang rajin berbalas mention denganku, namanya.. sebut saja Bunga. Bunga selalu aktif di twitter dengan beberapa tweet berbahasa inggris dan dia rajin berbalas pesan dengan Manusia Pesisir satu ini. Sampai pada suatu ketika, Manusia Pesisir meRetweet salah satu dari sekian banyak tweet galau milikku. Rasanya terpental kemasa-masa dimana aku pertama kali mengenal Manusia Pesisir ini.

Awal pertama kenal dengan Manusia Pesisir, dalam ingatanku dia adalah seorang siswa dari SMA yang baru baru ini juga menjadi SMAku. Beralmamater biru, berkacamata, hitam, rambut ikal, dan giginya gingsul. Aku tau semua ciri-ciri fisik itu hanya dari Facebook. Iya intinya kami memang hanya berkomunikasi di Facebook. Ketika itu sedang jaman-jamannya WTW atau Wall to wall, adegan dimana membalas komen pada kolom komentar sudah terlalu menstrim sehingga manusia cerdas Indonesia menggunakan cara lain untuk berbagi kabar. 

Seingatku wall Facebooknya selalu ramai dengan balasan wall dari banyak akun yang tak aku kenal tapi berdomisili di Blitar juga. Pertama mengenalnya kelas 2 SMP dan itu artinya dia masih kelas 1 SMA. Pertama mengenalnya aku tau dia memiliki pacar yang sama gilanya dengan Manusia Pesisir ini. Ada beberapa balasan wall dari pacarnya yang sering membuatku terpingkal, sampai-sampai aku berpikir "ada ya orang pacaran kelakuannya kaya gini". Aku sudah mulai lupa bagaimana detail perkenalan kami di Facebook.

Jaman semakin modern, sampai sampai ibuku memiliki akun Facebooknya sendiri, dan beliau selalu mengomentari semua status galauku. Karena aku orangnya kepo akhirnya aku berusaha untuk move on ke twitter. Pertama kali punya akun twitter rasanya bingung banget. Walau pun setiap hari aku buka twitter, ngetweet, dan baca tweet dari akun bercentang yang aku follow tapi sejujurnya aku gak paham paham banget sama sistem kerja twitter.

Sudah.. lupakan kebodohanku masa itu..

Kelas 3 SMA aku diberi mukjizat untuk pindah sekolah ke Blitar. Yey~ Dan ada satu mukjizat lagi yaitu dipertemukan dengan Manusia Pesisir ini. Dalam sebuah mention dia bilang, "heh denk! kamu pindah sekolah neng mblitar to". Seperti wanita pada umumnya, aku juga doyan ngeles biar mention-mentioannya bisa panjang. haha~ edan! 

Pada akhir adegan mention-mentionan itu dia bilang, "aku lho ndelok jenengku neng absen ngarep BK. Mlebu kelas IIS 3 to?" 

Kali ini aku tidak bisa mengelak lagi. Aku cuma ber iya iya ria saat dia bercerita tentang kedatangannya di SMA beberapa hari lalu. 

Aku mulai lupa bagaimana alurnya, sepertinya cerita ini alurnya bakalan lompat lompat..

Oke singkat cerita,
Siang itu Bunga yang baru masuk kelas berteriak padaku, dia bilang, "fah kamu dicari Manusia Pesisir". Aku melongo. Baru beberapa hari lalu dia bilang sedang di Singaraja, karena dia memang kuliah di Singaraja dan sejak saat itu banyak kata Singaraja muncul dikepalaku karena sebelum tau dia kuliah di Singaraja, ada salah satu dari sekian banyak mantanku yang lahir, besar, dan tamat sekolah di Singaraja tapi kuliah di Jember. 

Sebelum manusia berrambut ikal dan gondrong itu masuk kelas, aku masih meyakinkan diri bahwa apa yang diucap Bunga hanya angin lalu. Memang akhir akhir ini aku rajin berbalas mention dengan Manusia Pesisir ini dan Bunga yang juga mengenal Manusia Pesisir ini sering ngebully aku di kelas. 

Akhirnya, manusia pesisir itu masuk kelas bersama guru Geografi. Deg! Modyar~ yang dikatakan Bunga ternyata benar. Aku masih ingat jelas, hari itu dia mengenakan jas almamater kampusnya, sebagai anak SMA yang sebentar lagi jadi mahasiswa juga, melihat seonggok mahasiswa di sekolah rasanya pasti rada gimana gitu.

Aku anak baru. Biasanya anak baru kalah saing sama anak lama kalau masalah rebutan bangku. Karena aku anak baru yang cinta damai akhirnya aku menikmati takdir untuk duduk di bangku paling belakang dan jauh dari jangkauan guru. Iya, jauh dari jangkauan guru dan.. Manusia Pesisir itu memilih duduk di bangku paling belakang. Berjarak dua meter dari tempat dudukku. Astaga!

Selama pelajaran Geografi semuanya masih baik baik saja, tapi baik baik saja itu berubah jadi kacau karena dia memanggilku, "denk.. denk.. denk..". Awalnya aku cuma nyengir kuda lalu fokus lagi ke pelajaran. Sayangnya dia malah menggeser posisi dudukku lebih dekat kearahku, akhinya aku pun tergoda. Kami baru memulai obrolan ketika salah seorang teman bilang, "cieee hanifah sama masnya.." 

Tanpa dikomando, seluruh mata mengarah pada kami yang sama sama kikuk, bahkan guru Geografi yang notabene adalah wali kelasku juga ikut terkekeh mendengar kalimat temanku itu.

Dan,
Ada satu cerita lagi..

Medan Jogja Jember



"Aku balik Medan dulu.." tulisnya dalam sebuah pesan singkat.

Beberapa hari sebelum dia mengirim pesan singkat ini, ada sebuah tragedi yang membuat dia kalang kabut.



Siang itu..


Aku terhuyun menuruni anak tangga menuju depan tempat kos. Di ambang pintu dia berdiri dengan wajah sendu. "Kenapa? Kamu sakit?" aku pun panik.

Dia hanya menggeleng pelan.

"Terus kenapa?" aku bertanya sekali lagi.

Dia menyeretku menuju sepeda motornya, "kamu liat deh tasku.."

Aku mengamati tasnya dengan seksama. "Serius deh, aku gak paham.. kenapa sih?"

"Mata lu dimana sih?" dia meraih tasnya dari tanganku. "Nih liat!" 

Tangannyan membuka resleting di tasnya lalu mengeluarkan benda kotak berbalut plastik hitam dari dalamnya. "Laptop aku basah, Ra"

Aku masih melongo melihat bungkusan hitam di tangannya. "Kamu serius? Itu beneran basah?"

"Iyalah!" bentaknya. "Aku harus gimana, Ra? Semua data ada disini.."

"Tunggu.." aku menarik nafas panjang untuk menenangkan diri sendiri. "Kamu harus tenang.." kataku.

"Tenang tenang matamu! Masa depanku ada disini!" 

"Sini laptopnya," dia menyerahkan bungkusannya padaku. "Laptopnya mau aku kipas dulu di kamar"

Beberapa saat kemudian aku keluar dengan baju rapi, "makan dulu yuk.. banyak banyak doa aja." Dia hanya mendongak sebentar lalu buang muka. Mata sayu itu lagi lagi buatku iba. 

"Sudah to.. santai aja. Laptopmu gak bakalan kenapa kenapa. Percaya deh sama aku," aku menyentuh bahunya perlahan. 

Selesai makan, dia memintaku untuk mengambil laptopnya dan melakukan adegan kipas-kipas di tempat kosnya saja. Karena aku manusia yang penurut, akhirnya aku menuruti permintaannya. 

"Nih.." aku menyodorkan laptop beserta hairdryer milikku.

"Bawa," ucapnya datar. Dia memutar arah motornya. "Ayo naik.."

"Lha? Aku ikut juga?" 

"Iyalah! Cepet naik!" ini sudah kali ke tiga dia membentakku.



Singkat cerita..

Setalah melakukan beberapa metode sesatku, laptopnya pun berhasil hidup kembali. Setidaknya sekarang dia bisa bernafas lega meski kenyataannya itu laptop kaya gak bisa dicharger gitu. Jadi, dia memutuskan untuk membawa laptop kesayangannya ke tempat service dengan harapan masa garansinya masih ada.

"Kalau sampai laptopku harus nginep di tempat service, aku mau balik Medan!" ucapnya penuh semangat.

"Ya pulango sana.. lagian akhir akhir ini kamu terlalu ngeforsir badanmu. Kamu butuh piknik, le!" 

"He! Aku ini punya target lulus bulan Mei. Kalau gak dikebut takut waktunya gak cukup," gerutunya.


***

Keesokan harinya dia menemuiku dengan wajah sumringah.  

"Fix. Sabtu besok aku balik Medan," katanya.

"Cieee.. akhirnya bisa ketemu Ibunda tercinta."

"Ah kau ini.." dia terkekeh sebentar lalu mukanya menjadi serius lagi. "Sekarang hari apa?"

"Selasa," jawabku.

"Kamu balik Jember kapan?"

"Minggu," jawabku sedikit ragu.

"Nah! Boleh aku pinjam laptopmu? Katamu, apa pun yang terjadi aku harus tetap produktif"

Aku menghembuskan nafas lega, "yaelaaah, aku kira apa. bawa deh bawa."

Dia tersenyum, "terima kasih ya, Ra.. Terimakasih karena selalu ada ketika otakku konslet dan panik kaya kemarin"



Hei,
Sari Nande di Farmasi UGM, Rindut di FK UGM,
Saad Baruqi di Fisika UNAIR, Triesca Wahyu di Teknik Sipil UNEJ,
Duta Putra di Perpajakan UNEJ, Mbak Chita Merary di Hukum UNEJ,
Jauharoh di IPB, Mas Angga Wijaya di Pend. Geografi UNDIKSA
Mas Dani di UNY, Mbak Tea di ISI Yogya
dan Wahyu Widyacipta di hatiku

Selamat garap skripsi.. 
Garap skripsi harus semangat!



Jawaban Pertanyaanmu (?)

Duduk sini..

Kita butuh bicara panjang lebar untuk selesaikan kemelut yang tak berkesudahan ini. Aku ingin tau bagaimana awal perkenalan kalian, apa yang telah kalian lakukan, dan apa yang sedang kalian rencanakan. Disini, aku sebagai pihak yang merasa dibodohi, ingin mengetahui kebenarannya. 

Baiklah, aku akan jawab pertanyaanmu terlebih dahulu..

Hari itu aku sedang menunggumu menyelesaikan tugas, tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan membisikkan berapa kata padaku. Entahlah seperti dihipnotis aku mengikuti langkah kakinya. Dia menuju sudut ruang yang jauh dari keramaian. 

"Aku mau ngomong serius," ucapnya sedikit gugup. "Sebenarnya hubungan kalian sejauh apa?"

Lama aku mencerna pertanyaan dari dia. Sampai aku menemukan 'kalian' yang dia maksud. "Oh, itu..  ya kaya yang kamu lihat."

Dia menghela nafas dalam-dalam, "Bukan, maksud aku.. perasaan kamu sama dia kaya gimana?"

"Hambar.." 

"Hambar?" ulangnya.

Aku mengangguk mantap.

Setelah percakapan itu.. cerita gila ini dimulai. 

Sudahlah, setidaknya sekarang kita sudah sama sama tau dan sekarang memang sudah waktunya untukku mengetahui keburukanmu. Untungnya aku mengenalmu lebih lama dari dia. Setidaknya aku bisa membaca gelagat aneh dari caramu tutup mulut tentang segala hal yang berbau wanita. Dan pada akhirnya.. ketika kutemukan bangkai itu aku hanya bisa berkata 'Jadi dari sini bau busuk itu berasal..' 

Berganti Posisi (?)

Kalau kamu berfikir aku sedang mencari penggantimu, kamu salah besar. Sampai hari ini belum ada niatan untuk menggantikan posisimu. Biarlah, sampai kapan pun kamu akan mendiami posisi itu. Aku tau betapa sakitnya di paksa beranjak dari posisi paling nyaman di hatimu, oleh karena itu aku tidak tega membiarkan kamu merasakan sakit yang sama.

Meski kamu telah gantikan posisiku dengan orang lain, percayalah, aku akan tetap disini menunggumu pulang. Biar pun berkali-kali kamu tuduh aku menggantikan posisimu dengan orang lain, percayalah, itu hanya halusinasimu saja. Karena di hati ini setiap nama memiliki posisinya masing-masing. Aku tidak pernah mengizinkan orang lain untuk mengisi sebuah rongga yang sudah penuh sesak dengan kamu, dan aku juga tidak ingin buatmu mengisi rongga milik orang lain.

Sekarang tinggal bagaimana kamu menyikapi perang dingin ini. Mulutmu selalu berkilah tiap kutanya "kenapa?" namun hatimu tak akan bisa. Ah iya, kamu memang nomor satu kalau masalah tipu menipu tapi kamu juga harus tau, sehebat apa pun kamu menipu orang lain (termasuk aku) kamu tidak akan bisa menipu diri sendiri. 

Aku tidak memaksamu untuk tetap berada disisiku, aku juga tidak bisa dengan mudah melepaskanmu pada orang lain yang belum tentu bisa perlakukan kamu dengan benar. Maka aku putuskan untuk meletakkan kendali diatas tanganmu, biar tangan kanan kirimu menimbang seberapa berharganya aku, kebersamaan kita, tawa yang pernah kita nikmati bersama, dan ego yang telah lama kita benamkan, jika kamu bandingkan dengan dia yang baru kemarin sore masuk dalam kehidupan kita lalu mengobrak-abrik segalanya.

Untuk kamu manusia termunafik yang pernah ada.
Kamu harus tau.. bahwa aku hanya mencintai kamu, bukan mencintai embel-embel yang melekat ditubuhmu, bukan posisi strategismu, bukan lingkunganmu, bukan juga karena teman-temanmu. Aku hanya mencintai kamu apa adanya.

Terlepas dari adegan tikam menikam beberapa minggu lalu, sungguh aku masih mencintaimu seperti dulu. Semua yang telah kita lalui bersama akan menjadi kenangan, tapi bagiku kamu adalah kamu.. bukan dia atau orang lain.


Jujur (?)

Jujur, aku mencintaimu..

Sangat..

Sangat..

Sangat mencintaimu..

Lalu kamu menjadikan cintaku sebagai batu pijakan untuk melompat ke hati lain. Hati yang belum tentu mencintaimu dengan caramu. Dengan mudahnya kamu gantikan aku dengan orang lain yang entah kenapa membuatku bergidik ngeri. Masih dari sudut pandang wanita, aku sangat mencintaimu, sampai kapan pun akan mencintaimu, bahkan setelah semua yang kamu lakukan dibelakangku, aku masih mencintaimu.


Setia (?)

Kita melangkah bersama
Menikmati sedih ini berdua
Sedihmu jadi bagian hidupku
Tapi bahagiamu bukan lagi tentang aku

Percuma,
Kau bilang cinta tanpa banyak kata
Percuma,
Kau bilang setia tapi ternyata..

Angkringan Jalan Monjali

Sebelumnya Warung Anglo dan Segelas Root Bear


"karena di dalam hati setiap nama memiliki posisinya masing-masing.."

Malam ini dia mengenakan baju flannel kesayangannya berdiri di hadapanku. Di dalam genggamannya terdapat seikat bunga mawar merah kesukaanku. Dia menggapai jemariku sambil berkata, "malam ini kita kemana?" 

Jawabanku masih sama, "terserah".

Dia hanya tersenyum tipis dan melajukan motornya memecah hiruk pikuk jakal malam ini. "Aku punya banyak cerita malam ini," ucapnya penuh semangat.

"Aku siap jadi pendengarmu, ksatria"

***

Jari lentiknya mengitari bibir gelas berisi kopi susu pesanannya. Matanya mengamati kepulan asap tipis dari dalam gelas. Mulutnya sedari tadi mengulang kata-kata yang sama, "aku mau cerita.." "aku mau cerita.." "aku mau cerita.." tapi belum ada satu kisah pun keluar dari mulutnya.

"Serius.." dia menghela nafas berat. "Aku mau cerita beneran"

Aku mengambil posisi senyaman mungkin untuk mendengarkan ceritanya. Jarang-jarang lelaki satu ini berbagi cerita, batinku.

"Kamu tau, aku baru dari rumah Mela buat ngasihin ini.." dia menyentuh seikat bunga disampingnya. "Ini buat kamu. Aku sengaja beli dua, satu buat Mela, dan satu buat kamu." 

"Terima kasih, ksatria!" ucapku kegirangan.

"Jangan senang dulu, ceritaku panjang nih.." dia menghirup kepulan asap dari dalam gelam.

"Cuma dihirup aja? Gak diminum?" tanyaku.

"Kamu lupa ya? Aku punya sakit mag, mana bisa minum kopi." 

"Astaga cintaaa! Aku hampir lupa. Kayanya salah deh aku ngajakin kamu kesini." 

"Santai aja.. harga makanan di sini murah kan? Kalau murah berarti kamu gak salah" dia tertawa sendiri.

"Terserah deh.." aku meminum bagianku. "Jadi, mau cerita apa, cinta?"

"Ceritanya gini.."


***

"Aku gak tau harus mulai dari mana.." lagi lagi dia menghela nafas. "Tadi sore aku beli dua ikat bunga dengan warna dan harga yang sama karena aku sayang kalian berdua. Karena dua bunga mawar ini aku bisa lihat respon yang sama sebanyak dua kali tapi jauh sebelum aku putusin buat beli dua ikat bunga ini aku sudah tau kalau aku bakalan ngelihat akhir pertemuan yang beda," dia terdiam sejenak. Matanya menerawang jauh, seperti menghitung motor lalu lalang, padahal tatap matanya kosong. 

"Maksudnya gimana?" kataku.

"Waktu ketemu Mela aku bawa dua ikat bunga dihadapannya. Biar pun ikat bunga itu sama, tapi aku kasih dia kebebasan untuk memilih karena Mela pacaraku. Sebelum memilih Mela sempat tanya, 'kenapa harus milih? bukannya bunga itu sama aja?' aku jawab 'iya, sama aja kok. kamu pilih yang mana?'. Sampai akhirnya Mela milih ikat bunga dari tangan kananku." 

"Njuk?" 

"Njuk dia tanya lagi, yang satu buat siapa?'' dia natapku lama.

Aku balik menatapnya. 

"Aku jawab bunga itu buat kamu. You know what lah.. dia langsung ngebuang bunga di tangannya. Dia bilang, 'kenapa harus Rara? bisa gak sih sekali aja gausa bawa bawa Rara?' aku cuma diam aja. Aku tunggu sampai emosi Mela reda. Sayangnya, sampai aku pulang pun Mela masih marah-marah" dia mengangkat gelas berisi kopi, hendak meminumnya.

"Stop!" teriakku. "Jangan diminum! Jangan coba-coba minum itu! Jangan mati konyol"

"Bodo amat!" umpatnya.

Segera aku raih gelas itu dari tangannya.

"Yaelaaah, kamu itu lucu. Kalau sudah tau Mela bakalan marah ngapain beliin aku bunga yang sama. Kalau sudah tau Mela marah sekarang kamu mau minum kopi biar mag nya kambuh terus mati?" ucapku dengan nada tinggi.

"Kamu tau? Kenapa aku sekarang duduk disini? Kenapa aku pesan kopi susu? Karena aku pengen lihat marahmu. Karena marahmu beda sama marahnya Mela." dia menghempaskan tubuhnya dikursi.

Aku terdiam. Tak percaya dengan kata-katanya.

"Mela selalu marah tanpa alasan yang jelas. Bahkan masalah kecil dan sepele pun bisa buat dia marah. Sementara kamu? Kamu marah untuk kebaikanku, bukan sekedar melampiaskan emosi aja," ucapnya lirih.

"Lalu?"

"Kenapa harus Mela? Kenapa tidak kamu saja?"

Aku tertunduk lemas.


Kembali (?)

Sudah lama sejak terakhir kita berjumpa dan akhirnya tadi malam kamu pulang. Kamu terlihat kurus, rambut hitammu tampak kecoklatan, rambut cepakmu sudah panjang, tapi raut wajahmu terlihat sumringah. Kita bertatap mata sangat lama. Aku menemukan banyak kerinduan disana.

Kamu melangkah lebih dekat..
Memberiku sebuah kotak hitam berhiaskan pita biru. "Ini apa?" tanyaku. Kamu hanya diam, tersenyum tipis, sambil berusaha mendekapku. Saat tubuhmu lekat dengan tubuhku aku ingin waktu berhenti sejenak. Aku ingin kamu buatku lupa akan setiap detik penantian, setiap bulir air mata, dan sembuhkan setiap luka sayat yang kenangan kita buat. "Sekarang aku lebih tenang," kataku.

Kamu melepas dekapan hangat itu sambil berkata, "Aku bahagia melihat kamu yang sekarang. tetaplah bahagia dengan dunia yang kamu punya. Jangan biarkan aku masuk lagi dalam kehidupanmu. Jangan beri aku kesempatan untuk mengobrak-abrik hidupmu lagi. Setauku, belakangan ini hidupmu sudah mulai tertata."

Aku hanya diam..
Perkataannya membuat mataku terasa panas. Jangan menangis dihadapanmu, aku harus terlihat kuat dihadapanmu, batinku.

"Tapi, kali ini aku mengharapkan kebaikan hatimu. Aku pulang. Walau lama tapi aku pulang. Walau terlambat tapi aku kembali. Aku ingin mengulang bahagia yang sama. Ternyata benar katamu.. diluar lebih dingin dari bayanganku. Maafkan aku," ucapmu lagi.

Aku menunduk pelan. "Kenapa baru sekarang kamu pulang?"

"Maafkan aku yang terlalu sibuk dengan duniaku. Aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa peluk tubuhmu adalah tempat terhangat yang pernah aku punya," suaranya terdengar berat.

Ada isak yang tertahan disana. Namun untuk kesekian kalinya aku tak ingin membukakan pintu untuknya. Aku tidak ingin dia kembali hanya karena di luar sana lebih dingin dari perkiraannya

Sendirian (?)

Kita sedang duduk berdua..
Merasakan sendu bersama
Matamu menerawang jauh
Mungkin sedang menunggu bintang jatuh

Kita sedang memegang buku yang sama
Dalam sunyi ruang baca aku coba mengeja kata demi kata
Puisi lama
Namun diksinya mewakili kita

Kita sedang menikmati komedi putar
Ketika komedi putar berada di atas kita dapat melihat segalanya
Sayang.. komedi putar tak mau berhenti lebih lama
Saat komedi putar menyentuh tanah kamu langsung berjingkat keluar

Dan tinggalkan aku sendirian..

Warung Anglo dan Segelas Root Beer

Sebelumnya Tugu Jogja


Jalanan masih tampak basah akibat hujan tadi sore tapi aku masih kukuh ingin ikut rapat dengan pimpinan redaksinya. Meski udara berhembus dingin dan rapat kali ini tak mungkin selesai dibawah jam 12 malam tapi sekali lagi; aku ikut. Sepanjang perjalanan kamu terus berkicau menyalahkan gaya berpakaianku yang malam ini mengenakan tangtop berbalut kaos tipis dengan belahan dada rendah.

"Anglo lagi.." grutunya.

"Kenapa? Gak suka? Tempatnya enak kok" kataku.

"Iya, tempatnya enak tapi setiap kali ke Anglo kesannya mau rapat. Bukan mau nongkrong happy sama teman."

"Makanya aku ikut, biar kita berasa nongkrong cantik" ucapku sembari memilih duduk di sebuah banggu yang terbuat dari drum bekas.

Seorang wanita menghampiri kami untuk menyodorkan daftar menu. Aku masih asik memilih menu saat tiba-tiba dia menarik daftar menu dari tanganku. "Sudah gausa kebanyakan milih, disini menu andalannya Root Beer. Kita pesan itu aja," ucapnya berbisik. Bodohnya aku hanya mengangguk pasrah mengiyakan tawarannya padahal aku belum tau bagaimana rasanya Root Beer.

"Tenang, minumannya halal kok. Gak beralkohol dan yang jelas gak bikin kamu mabuk," tambahnya.

Kali ini seorang pria dengan nampan berisi dua gelas Root Beer mendatangi meja kami. "Terima kasih," katanya.

Tangannya dengan sigap membuang kedua sedotan yang ada di dalam gelas. "He! Kenapa?" ucapku kesal.

"Kowe ki.. ngombe beer mosok gawe sedotan." matanya memelototiku.

"Eheeem.. ketika orang batak sudah bisa bahasa Jogja," kataku.

"Rasis wooy" katanya sambil terkekeh.

"Kamu tau gak kenapa aku ngeyel minta ikut kamu rapat?" ucapku lirih.

Dia hanya menggeleng dan menatapku lurus.

"Aku kangen kamu," seketika kepalaku tertunduk malu.

"Terus?"

"Yaudah, aku kangen kamu."

"Terus aku harus gimana?"

"Gak tau. Jangankan kamu, aku aja yang kangen bingung harus gimana."

Hening.

Aku mengamati gelas besar yang luarnya berembun, menyisakan sedikit genangan air di meja. "Mungkin dulu aku belum bisa terima kalau kamu sibuk dengan skripsi. Mungkin dulu aku juga belum bisa terima sama situasi dimana kamu bicara panjang lebar tentang perasaanmu ke aku tapi akhirnya kamu malah jadian sama yang lain hanya karena kita beda iman," aku bicara sambil melirik kearahnya. "Tapi sekarang aku sudah bisa terima dan aku kangen kamu."

Dia hanya diam. Menatapku dalam.

"Kamu harus cari pacar, Ra" tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya lama. "Cinta dari orang tua dan adik-adikmu memang sudah lebih dari cukup, tapi kamu juga butuh cinta yang lain," lanjutnya.

"Kenapa? Sekarang aku sudah punya kamu. Aku nyaman sama kamu. Saking nyamannya sampai-sampai aku ngerasa kalau aku gak butuh pacar lagi."

"Ra.. aku gak mau denger apa pun alasan dari kamu. Mulai sekarang coba kamu buka hati dan mulai cari pacar."

"Cariin," ucapku ketus.

Dia hanya diam lalu menyalakan sepuntung rokok dalam genggamannya.

"Saranku, kamu jangan pacaran sama orang dari lingkungan kita."

"Kenapa?"

"Kamu taulah, ketika kita berada di lingkungan yang sama, kita sering ketemu, kemudian kamu jadian sama salah seorang dari 'kita', terus pait paitnya kalian putus, apa yang terjadi? Musuhan" jelasnya.

Aku masih menatap matanya menanti kalimat selanjutnya.

"Kita berdua sudah pernah mengalami itu semua. Dari kita yang gak kenal, terus kita kenal. Dari kita yang hambar biasa aja sampai akhirnya kita punya rasa satu sama lain. Dari kita yang baik-baik saja, sampai dengan tololnya aku membuat keputusan untuk berhenti perjuangin kita dan lebih memilih untuk jelan bareng orang lain. Apa yang kita lakukan setelah itu? Setiap kali ketemu kita cuma berani saling tatap tapi gak berani saling sapa," lanjutnya.

Aku mengangguk pelan.

Dia menarik nafas panjang lalu berkata, "Aku minta maaf karena kejadian tempo hari. Kamu gak salah, pacarku juga gak salah, yang salah aku. Harusnya aku kasih penjelasan ke kalian berdua. Aku kenalin kamu ke dia secara baik-baik biar gak terkesan aku sembunyiin kamu dari dia. Maaf.."

"Mellow banget sih.." ucapku terkekeh. "Santai aja yoo, sekarang semuanya sudah baik-baik saja."

"Aku serius!" bentaknya.

"Hei, sama cewek kok ngomongnya pakai nada tinggi," ucap seorang lelaki sembari menyentuh pundaknya.

"Hehehe.. abis ceweknya ngeselin kaya dia," jari telunjuknya mengarah padaku.

Aku hanya bisa nyengir kuda mendengar ucapannya.

Tetiba Kangen Mantan

Aku menulis bersama secangkir susu coklat panas. Rasanya memang gak seenak yang kemarin, sayangnya susu coklat yang kemarin belum sempat saya habiskan karena lupa.

Kali ini aku lagi gak ingin nulis yang macam-macam. Aku lagi pengen menjadi aku.

Aku cuma mau cerita sedikit tentang ketidakpahamanku sama diriku sendiri. Aku memang jomblo udah lama banget, februari tahun depan aku ngerayain aniv 3 tahun kejombloanku. Tapi hidupku gak sepi-sepi amat kok.

Banyak hal yang sudah aku lakukan selama tiga tahun terakhir. Banyak sekali pencapaian diluar nalar yang bisa aku lakukan selama tiga tahun terakhir. Tapi untuk bisa hilangkan ingatan dan kenangan tentang satu orang ini nggak segampang dapatkan rangking 1 hanya untuk pindah sekolah ke Blitar supaya bisa satu kota dengan manusia yang satu ini. 

Dulu banget, waktu masih SMA kelas 1, waktu masih labil-labilnya, waktu banyak remaja seusia itu sedang bangga bangganya dengan pacar mereka yang bermotor satria, aku cuma bisa banggain status "in relationship" di facebook karena lagi LDR. Hahahaha.. yaelah, anak bau kencur sok LDR. 

Walau pun  di HAHAHA in sama banyak orang, tapi itu adalah satu-satunya cerita cinta yang paling berkesan. Saking berkesannya sampai-sampai sudah tiga tahun putus pun masih gak bisa lupa. 

Dulu banget, waktu aku putus sama dia aku biasa aja kok. Aku strong banget. Sampek suatu ketika dia punya pacar baru. Tau gak hal macam apa yang aku lakuin ketika tau dia punya pacar? Aku nangis. Tau gak aku nangisnya dimana? Di depan bank mandiri alun-alun jember, sampek bikin orang satu rumah heboh. Karena kejadian penuh air mata itu berlangsung antara jam 12 malem sampek jam 2 pagi. Ya bayangin aja, anak orang, cewek, nangis sendirian, pegang kain kecil buat usap umbel, duduk di depan mandir alun-alun, tengah malem, kalo tetiba disaut sama orang kan bisa wasalam. Ilang.

Aku galau berat selama berhari-hari. Untuk kali pertamanya aku yang doyan banget makan tetiba gak pengen makan apapun sampek ibuku heboh sendiri nawarin makanan enak tapi aku selalu nolak. Aku sekolah sudah gak fokus. Kelas satu semester 2 nilai rapotku hancur total. Aku kalut gak karuan. Sampai akhirnya aku kepikiran buat pindah sekolah. Waktu pembagian rapot kenaikan kelas, aku ngerengek sejadi-jadinya minta pindah sekolah di blitar. 

Ibuku bilang, ibu mau pindahin kamu kalau kamu bisa dapet rangking satu. Hello? Dari rangking 13 ke rangking 1 itu jauh banget yo. Harus berapa banyak malam yang aku habiskan untuk belajar? Harus ada berapa banyak jam main yang aku korbankan cuma buat baca buku? tapi ternyata menumbangkan 12 orang tidak sesulit yang aku bayangkan. 

Pada masa-masa itu aku percaya kalau ternyata aku itu bisa, aku gak bodoh-bodoh amat, toh hanya dengan bawa telinga setiap kali pelajaran dimulai aku sudah bisa dapetin nomor satu dalam hitungan beberapa bulan. Pada masa-masa itu aku akui aku lagi sombong-sombongnya.

Sesuai perjanjian awal, aku pun pindah sekolah. Deal! 

Setelah pindah sekolah aku mulai sadar kalau hidup gak semudah yang dibayangin. Tau kan alasan pertama aku pindah sekolah biar bisa satu kota sama dia. tapi nyatanya setelah satu kota dia malah ngilang gitu aja gak ada kabar. Sumpah aku nyesel banget!

Waktu udah akhir-akhir kelas 3 aku sempat kontak sama dia lagi. Dia keterima di UB kalo gak salah di Pertanian. Dari awal kenal sampek sekarang pun yang bikin aku kagum sama dia itu ya cuma satu; dia pinter dalam segi akademik. Plus dia berduit dan bermobil *ehkeceplosan

Curhat kangen sama mantannya udahan sampek disini aja. nanti kalo aku baper terus nangis di alun-alun kidul kan bahaya :)

Tugu Jogja

Sebelumnya Stasiun Lempuyangan


“Sudah dapat?”
Aku menggeleng.
Dia meraih camera di tanganku lalu menekan tombol playback untuk melihat hasil fotoku. “Mau aku ajarin bikin foto bulb?” tanyanya sekali lagi.
“Caranya?”
“Ayo nyebrang ke situ dulu. Kita ambil foto low angle biar Tugu-nya kelihatan gagah,” ucapnya sembari menggandeng tanganku melintasi jalanan searah.
Sesampainya di sebrang jalan, tepatnya di depan sebuah optik, dia mulai mempersiapkan tripod. “Katanya low angle, ngapain pakai tripod?” kataku heran.
“Kamu rela kalau kameramu aku taruh di atas jalan aspal kaya gini?” jawabnya ketus. “Nih, pasang di kameramu,” dia melempar monting tripod padaku.
Aku menyodorkan kameraku padanya. Dengan cekatan dia mengotak atik settingan pada camera. Awalnya dia menekan sambil memutar tombol mode pada kamera lalu mengotak atik tombol yang lain. “Sini aku ajari,” katanya.
“Kalau kamu putar ke tombol modenya pada posisi B kameramu secara otomatis bakalan jadi mode Bulb. Bedanya mode Bulb sama mode manual itu kaya gini,” dia menekan tombol shutter. “Ketika kamu pakai mode manual, kamu cuma bisa atur shutternya sampai 30sec aja. Kalau kamu pakai mode Bulb, kamu bisa tekan shutternya sampai lebih dari 30sec. Jadi mode Bulb waktunya bisa lebih lama,” tututnya panjang lebar.
Setelah mengoceh panjang lebar dia menekan tombol playback untuk melihat hasil foto bulb miliknya. “Nih, jadi..” katanya.
“Baguuus!” seruku.
“Sini coba sendiri,” dia beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di belakangku. “Kamu suka warna biru kan? Kalau di kameramu ini bisa di atur color temperaturnya. Semakin kecil pada lambang  kelvin maka warnanya akan blue-ish atau kebiru-biruan.”
“Biar aku coba,” kataku.
Dia mengangguk lalu berjalan menjauh dariku. Dia duduk di sisi trotoar yang lain, mencari angle lain, katanya agar karya milik dia tidak mirip dengan karyaku. Aku hanya cekikikan setelah mengetahui alasannya.
***
“Sudah dapat?” sekali lagi dia mengulang pertanyaan yang sama.
“Sudah,” jawabku.
“Aku antar pulang sekarang. Aku baru ingat kalau ada beberapa urusan kampus yang sedang menunggu untuk dijamah,” katanya genit.
“Dih, sok sibuk lagi.”
“Memang sibuk..” dia terdiam sejenak. “Kamu masih ingat kata-kataku minggu lalu?”
“Iya, aku ingat. Kamu sudah memulai proyek kedua, kamu sedang mencari dana untuk research skripsi, kamu sedang menyusun proposal skripsi, dan selasa besok kamu seminar proposal. Aku ingat.”
“Maksudku bukan yang itu..” Aku hanya menatap matanya sekejap lalu melewatinya. Dia berusaha mengimbangi langkahku, “untuk semester ini saja.. aku minta pengertiannya.”
Aku mengehentikan langkah. Tersadar bahwa semester ini adalah semester paling menentukan, semester paling berat, dan dia butuh dukungan. “Maaf..” ucapku lirih.
Tangannya menyentuh bahuku, dia berdiri tepat di belakangku sekarang, namun aku takut untuk berbalik arah. “Gak perlu minta maaf..” dia membalik tubuhku. Kini dia manatapku tajam, “Point dari percakapan minggu lalu bukan tentang kesibukanku. Tapi sesibuk apa pun aku atau sesibuk apa pun kamu, kita harus menyempatkan waktu untuk berbagi kabar, karena kesibukan kita dan status hubungan kita yang begitu rumit membuat hubungan ini rentan.”
Hening.
Dia menarik nafas dalam-dalam. “Ayo aku antar pulang,” ucapnya sembari menyeret tubuhku menyebrangi jalan.

Kehancuran yang sama (?)

Kutarik sebatang lagi..
Sudah satu jam kami duduk di dekat jendela sebuah cafe. Aku masih setia mendengarkan sumpah serapahnya meski rasa malu yang kupungut sudah terkumpul banyak. Semua mata tertuju pada kami, bukan kami, tapi dia yang berkali-kali menggebrak meja.
Ditemani secangkir kopi aku mencoba berfikir. Di depanku duduk seorang lelaki dengan baju flanel kotak-kotak biru. Wajahnya merah padam, mulutnya terus mengeja nama-nama hewan dan nafasnya terengah-engah menahan amarah.
Aku menikmati asap yang masuk dan kuhembuskan perlahan. Tak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya diam melihatnya semakin naik darah. Sudah terlambat. Ketakutanku kini menjelma jadi nyata.
Dia terus menyalahkanku atas kebodohan yang dia ciptakan sendiri. Aku sudah lama menanti momen seperti ini, momen dimana dia duduk dihadapanku, menatapku dengan mata berkaca-kaca, dan mengumpat sejadi-jadinya. Sejujurnya aku lebih menanti momen dimana dia sadar bahwa selama ini nasihatku ada benarnya.
Seorang pramusaji mengantar secangkir kopi dan menyingkirkan gelas kosong dihadapannya. Dia mengamati kepulan asap dari kopi tersebut. Air matanya leleh, menyisakan isak yang bersembunyi dalam tangkupan tangan. Aku tak peduli. Bukankah lelaki juga boleh menangis?
Yang bisa kulakukan saat ini hanya mengusap lembut rambut hitamnya. Tanpa banyak kata aku berusaha menenangkan dia. Bagiku disaat genting seperti ini dia hanya butuh seorang pendengar, bukan sebuah komentar.
Perlahan dia mengangkat kepala, menyeka air matanya sendiri, dan menggapai jemariku. Dia ucapkan terimakasih atas semua perhatianku dan ucapkan maaf untuk keegoisannya selama ini, dan dia mulai bercerita seperti orang normal.
Dengan kehancuran yang sama kusulut rokok terakhir. Dia selalu menggunakan ‘KITA’ sebagai kata ganti aku dan kamu. Namun bicaranya mengarah pada cinta yang lain. Aku menelan pahit cerita yang keluar dari mulutnya. Berusaha kembalikan diri ke posisi ‘sahabat’nya bukan sebagai seorang wanita. Mataku tak lepas dari matanya, dia tak berhenti manatapku, dia masih menggenggam tanganku erat.

"Hentikan! Berhentilah! Jangan pura-pura simpati bila nyatanya hati ini terjemahkannya sebagai bahagia. Iya aku bahagia dia merasakan kehancuran yang sama denganku beberapa waktu lalu. Aku bahagia atas deritanya!" batinku.

Stasiun Lempuyangan

Sebelumnya KFC Depan Suka


“Terimakasih..”
“Santai aja..” Buru-buru dia turun dari motor. “Besok aku berangkat ke Brebes jam 7, tapi aku mau ajak kamu sarapan bareng, bisa?”
“Iya, bisa.”
Pasti bisa, batinku.
Dia menyalakan mesin motor sesaat setelah aku menutup pintu gerbang kos.
---
Tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku. “Kamu baik-baik aja?” bisiknya lirih.
Kapalaku masih menunduk saat aku melihat ujung sepatu hitam kesayangannya berada dekat dengan sepatuku. “Kenapa?” ucapnya sekali lagi.
Belaian lembutnya membuatku tak kuasa menahan bulir air mata yang sudah lama mengambang dipelupuk mata. “Masa baru sampek jogja udah nangis aja?” godanya.
“Aku sudah sering bilang, kamu tipe orang yang gampang percaya sama orang lain. Kadang saking percayanya kamu sama orang lain sampai-sampai kamu tertipu; seperti sekarang.” Dia menghela nafas panjang. “Sudah. Kita masih di stasiun lempuyangan lho, di tujuan terakhir kereta api sri tanjung, dan kamu tau..” Dia berbisik padaku, “ini tempat umum.”
Seketika aku mengangkat kepala dan menyeka air mata. Dia memberiku selembar tisu untuk mengusap ingus yang meluber kesegala arah. “Nah, gini kan enak. Aku jadi ngerasa ngomong sama orang. Kamu tau gak? Aku dari tadi berasa ngobrol sama bangku di depan situ.” Tangannya menunjuk deret bangku kosong di hadapan kami.
“Muka kamu pucat. Kamu sakit? Gimana kalo kamu makan roti dulu?” dia menyodorkan roti padaku.
Aku menikmati roti pemberiannya sambil sesenggukan.
“Sudah berapa lama nunggu disini?”
“Sejam,” jawabku singkat.
“Waktu tau temenmu gak ada kamu gak berusaha ngehubungin orang lain?”
“Udah..” Aku menarik nafas panjang, mencoba merapikan nafas agar tidak sesenggukan lagi. “ Tapi, nomornya gak aktif.”
“Usahamu cuma gitu aja?” tanyanya lagi
“Jadi gini..” aku menggeser posisi duduk sampai berhadapan. “Waktu tau temanku gak ada, aku sempat panik dan duduk disini kaya orang bodho. Aku berusaha otak-atik phonebook di hape android karena hape BB-ku batrainya abis. Nama pertama yang terlintas di kepalaku itu Mas **** tapi setelah berkali-kali aku hubungi nomornya gak aktif. Aku mulai hopeless tuh. Otakku mulai konslet waktu salah satu dari empat nomer di handphoneku gak bisa dihubungi. Aku sempat kepikiran buat telfon teman yang lain. Hubunganku sama teman satu ini memang lagi gak baik tapi dalam situasi seperti ini akhirnya aku rela memurahkan diri untuk telfon dia lagi. Dan diluar dugaan, aku kira dia bakalan tutup telfon waktu aku sebutin nama, tapi ternyata dia malah nyapa dengan renyahnya. Sayang, dia lagi kumpul bareng temannya dan gak bisa jemput aku. Dengan rasa malu campur kecewa aku tutup telfon.”
Dia mengangguk. “Untungnya aku lagi di Jogja dan di rumah aja. Jadi waktu baca PM kamu, aku bisa langsung meluncur kesini.”
“Terimakasih..” aku tersenyum kecut. “Bukannya sekarang masih masa KKN? Ngapain di Jogja?”
“Aku kabur dari tempat KKN.”
“Apa iya?” rasanya jantungku mau copot saat mendengar jawabannya.
Dia tersenyum tipis, “kamu masih ingat kan kalau aku ikut proyek dosen untuk menghemat biaya skripsi?” Aku mengangguk. “Aku ke Jogja buat jenguk anakku di kandang karena sudah waktunya sampling.”
“Sampling?” kataku heran.
“Iya, sampling. Sebelum aku mulai proyeknya, aku juga ngelakuin sampling pakai darah dan urin tikus putih itu. Setelah 91 satu hari dipejanin atau diberi obat sambil diteliti, si tikus putih harus di sampling lagi. Hampir mirip kaya hari ke nol, semua tikus putihku diambil darah dan urinnya, tapi untuk hari ke 91 tikus putih sudah waktunya dibedah untuk diambil organ dalamnya supaya tau efek apa saja yang timbul pada jantung, limpa, lambung, paru-paru, hati, dan ginjalnya setelah diberi obat.” Dia menatapku lurus. “Kepo ya?” godanya.
“Lanjutin ceritanya..” aku merengek dengan wajah memelas. Dia tertawa keras-keras hingga  beberapa mata mengarah pada kami.
“Aku lanjutin nih..” Aku mengangguk. “Tidak semua tikus dibedah hari itu juga. Ada beberapa tikus yang dibiarkan hidup selama 14 hari lagi. Tujuannya untuk mengetahui efek yang ditimbulkan setelah pemberian obat dihentikan. Tamat.”
Aku menggeleng kagum, “kereeen!”
“Karena ceritanya sudah selesai bagaimana kalau kita pulang?” dia beranjak dari tempat duduk sambil menenteng barang bawaanku.
Dan aku mengikutinya dari belakang.

Bangunlah,

Bangunlah,
hidupmu tidak akan berubah.

Jangan menangis lagi,
wanita tak tau malu ini tidak pantas kau tangisi
kau lebih pantas menangis bahagia meski kau pun tau
bahagiamu bukan lagi aku.

Sayang,
Aku masih ingin mengganti namamu dengan sebutan sayang.

Terimakasih,
bukan kamu yang “terlalu baik buat aku”
tapi aku yang busuk.

Berbahagialah karena..
hari ini aku memutuskan untuk sudahi kenyataan yang kau sebut drama.
hari ini aku putuskan untuk berhenti menjadi lebih baik
karena kau anggap aku sama saja.

Kau bilang..
Kau bilang kita sudah cukup dewasa untuk menjaga cinta agar tetap segar,
kau bilang kita pasti bisa meski jarak akan menjadi koma diantara kita,
dan masih banyak “kau bilang..” lain yang yakinkan aku untuk bertahan.

Sayangnya,
kau belum bisa percayai kata-katamu sendiri.

Bahkan,
kau masih belum bisa melepas label penipu dari keningku
kau masih anggap aku murahan seperti dulu.

Jadi, mari kita akhiri.